Hama dan Cuaca Biang Kerok Panen Hasil Pertanian? Begini Kata Pengamat
"Pada era 90-an itu ada pengendalian hamaterpadu, bagaimana petani diajari mengendalikan hama dan penyakit tidak hanya dengan produk kimia"
Penulis: Nappisah | Editor: Adityas Annas Azhari
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Hama dan cuaca menjadi faktor penurunan produksi beras maupun jenis pangan lain di Tanah Air.
Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, mengatakan, menurut hasil evaluasi, para petani kerap menggunakan produk kimia untuk mengusir hama.
"Pada era 90-an itu ada pengendalian hamaterpadu, bagaimana petani diajari mengendalikan hama dan penyakit tidak hanya dengan produk kimia atau peptisida," ujarnya, kepada Tribunjabar.id, Jumat (16/2).
Menurutnya, petani seringkali menggunakan produk kimia yang menurut aturan dilarang diperjualbelikan.

"Ternyata dalam prosesnya, petani menggunakan sembarangan. Membuat hama dan penyakit lain bisa diminimalisir serangannya, menjadi resisten menjadi kebal meskipun diberi dosis yang lebih tinggi tetap tidak mempan, itu suatu kerugian," jelasnya.
Khudori mengatakan, edukasi maupun penyuluhan harus terus digencarkan dan berkelanjutan guna mengatisipasi masalah klasik pada petani.
"Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu itu sudah tidak banyak dilakukan, antara lain karena penyuluh memang tak banyak," tuturnya.
Baca juga: Ribuan Petani di Purwakarta Dapatkan Diskon 40 Persen Pupuk Murah Nonsubsidi
Tantangan saat ini, kata Khudori, iklim dan cuaca pun dapat menjadi biang kerok gagal panen.
"Di sini ada sebetulnya Sekolah Lapang Iklim yang diinisiasi oleh BMKG. Namun perkembangannya lambat," kata Khudori.
Menurutnya, hasil evaluasi Sekolah Lapang Iklim bisa menjadi senjata para petani untuk menghadapi cuaca yang tak menentu.
Baca juga: Termasuk Petani Milenial, Program-program Peninggalan Ridwan Kamil akan Dirombak Pemprov Jabar
"Informasi iklim rutin dibagikan BMKG kepada dinas-dinas kabupaten atau provinisi, harapannya ini diteruskan kepada petani," imbuhnya.
Namun, kata dia, apakah informasi tersebut sampai kepada para petani. Kemudian, bila sampai mampukah petani menerjemahkan informasi tersebut dalam bentuk pola tanam.
"Misalnya, tiga bulan cuacanya seperti apa, tanaman apa yang cocok? apakah padi, jagung atau yang lain. Bila tidak bisa menerjemahkan tidak ada gunanya juga," ucapnya.

Khudori menambahkan, para petani yang menyerap informasi dan tergabung Sekolah Lapang Iklim, produksi panennya meningkat dari 10 hingga 20 persen, menunjukkan praktik yang baik.
"Namun permasalahannya, tidak semua daerah menganggap pertanian itu penting, jadinya tidak diurus," katanya. (*)
Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)
Sekolah Lapang Iklim
peptisida
Khudori
panen
beras
petani
BMKG
Alternatif Pengendalian Harga Beras: Efektivitas SPHP Dipertanyakan |
![]() |
---|
Petani Kecil Kini "Bankable", Koperasi Bangun Tani Makmur Buka Jalan ke Lembaga Keuangan |
![]() |
---|
Ombudsman: Kebijakan Perberasan Nasional Belum Stabil, Harga Beras Melonjak dan Distribusi Tersendat |
![]() |
---|
Di Tengah Panen 1.250 Kg Melon, Lapas Kelas I Sukamiskin Resmikan Sekretariat Jatara |
![]() |
---|
Prakiraan Cuaca Bandung Raya Dalam Sepekan ke Depan, Berawan dan Potensi Hujan Ringan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.