3 dari Ratusan Warga Subang yang Terkena DBD Meninggal Dunia, Pemkab Tetapkan Status KLB
Tiga orang di Subang meninggal dunia karena kasus demam berdarah dengue (DBD) pada awal 2024.
Penulis: Ahya Nurdin | Editor: Giri
Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Subang, Ahya Nurdin
TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Tiga orang di Subang meninggal dunia karena kasus demam berdarah dengue (DBD) pada awal 2024.
Korban meninggal adalah anak-anak.
Sedangkan pada 2024 hingga Februari ini, kasus DBD di Subang tercatat 374.
"Kasus DBD di Subang meningkat signifikan lebih dari sembilan kali lipat. Tercatat ada 374 kasus dengan tiga kematian. Sementara awal tahun 2023, jumlahnya hanya 40 kasus tanpa kematian," ujar Kadinkes Subang, Maxi, kepada Tribun Jabar, Rabu (7/2/2024).
Meningkatnya kasus DBD ini membuat Pemkab Subang menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah.
Maxi mengatakan, untuk mengerem kasus DBD ini diperlukan upaya-upaya yang lebih luas lintas sektor. Target utamanya adalah memutus mata rantai penularan vektornya yaitu nyamuk Aedes aegypti.
"Kami akan membentuk kelompok kerja operasional namanya Pokjanal DBD tingkat kabupaten. Kemudian akan diturunkan ke tingkat kecamatan sampai ke tingkat desa," katanya.
Baca juga: Ratusan Warga KBB Terjangkit Demam Berdarah, Paling Banyak Terjadi di Cikalongwetan dan Cililin
Kegiatan yang dilakukan oleh Pokjanal tersebut ada tiga. Pertama, bulan bakti gotong royong pemberantasan sarang nyamuk dilaksanakan selama empat minggu berturut-turut mulai Februari sampai awal Maret.
"Waktu empat minggu ini untuk menekan angka kejadian yang luar biasa nyamuk itu seperti di penampungan air yang ada di dalam rumah kita. Karena DBD ini nyambungnya spesifik. Dia senang di tempat wadah yang dasarnya bukan tanah, tapi plastik yang menampung air seperti gelas plastik bekas air mineral," ucapnya.
Baca juga: Demam Berdarah Dengue Memakan Korban Empat Warga Karawang, Ini yang Dilakukan Dinas Kesehatan
"Kemudian kami juga akan mengampanyekan 3M kepada masyarakat dan pemberian bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk di bak mandi. Serta alternatif terakhir melaksanakan fogging," ucapnya.
Selain itu, dia juga mengintruksikan kepada seluruh pihak puskesmas untuk melakukan rapid test terhadap anak atau balita yang mengalami gejala demam tinggi saat berobat ke puskesmas.
"Sehingga dengan rapid test ini bisa terdeteksi dini dan bisa ditangani dengan cepat. Pasien tak perlu menunggu tes laboratorium yang memakan waktu tiga hari," ucapnya
Maxi juga menyebut, bahwa penyebab utama meningkatnya kasus DBD di Subang karena fenomena El Nino. El Nino ini tak hanya berdampak pada pertanian tapi juga kesehatan.
"Fenomena El Nino yang menyebabkan suhu lebih hangat sehingga dapat membuat nyamuk Aedes aegypti semakin ganas. Jika suhu panas di atas 30 derajat celcius, frekuensi nyamuk menggigit akan meningkat tiga hingga lima kali lipat. Di sisi lain, saat curah hujan minim membuat genangan air dari hujan sebelumnya tidak tergantikan, sehingga menjadi tempat berkembang biak (breeding place) nyamuk penyebab demam berdarah tersebut," ungkapnya.
Baca juga: DBD Masih Jadi Ancaman, Kini Ada Vaksin Demam Berdarah untuk Pencegahannya
Pemkab Subang dan KPK Berkolaborasi Ciptakan Kepastian Hukum Dalam Tata Kelola Investasi dan Lahan |
![]() |
---|
Subang Menyimpan Potensi Gempa Bumi, Ditemukan Sesar Lokal Baru, Warga Diminta Waspada |
![]() |
---|
Anggota Polsek Pamanukan Subang Jual Beras SPHP, Bahkan Diantar Sampai Pintu Rumah Pembeli |
![]() |
---|
Pemkab Subang Tak Langsung Setuju Usulan Dedi soal Penghapusan Tunggakan PBB, Lakukan Langkah Ini |
![]() |
---|
Kasus DBD Terus Mengintai di Bandung, Dinkes Fokus Pemberian Vaksin untuk Pencegahan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.