Kisah Inspiratif Bunga Bangsa Lestarikan Bahasa Daerah Lewat Musik, Keluarkan Single Ketiga
Bunga Bangsa sudah mencatat berbagai prestasi sebagai seorang drummer. Perempuan asal Kota Semarang itu sering berkolaborasi dengan musisi Bandung.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Giri
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bunga Bangsa sudah mencatat berbagai prestasi sebagai seorang drummer. Perempuan asal Kota Semarang itu sering berkolaborasi dengan musisi Bandung.
Dalam perjalanan sebagai drummer, dia pernah memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai “Remaja Perempuan Penabuh Drum Terlama” yakni 22 jam pada tahun 2021.
Di saat yang bersamaan, Bunga berhasil menggalang donasi sebesar Rp 2,2 miliar yang diberikan kepada 1.400 anak yatim di seluruh Indonesia melalui Yayasan Mizan Amanah.
Kini, setelah sukses dengan dua single sebelumnya, 'Panggrantesing Jagad' (Kesedihan Bumi) tahun 2020 dan 'Prahara Rusaking Jagad' (Kejadian Rusaknya Bumi) tahun 2022, Bunga merilis single ketiga sekaligus sekuel dari runtutan cerita tentang Rusaknya Bumi dan seisinya, berjudul 'Rurah' (Rusak).
Ditemui di CGV Paris Van Java saat meluncurkan single terbarunya, Bunga mengatakan 'Rurah' bercerita tentang egosentris manusia yang terjadi belakangan ini.
Manusia mulai hanya memikirkan keinginan sendiri. Mereka tega melakukan segalanya dengan cara apapun untuk memenuhi hasrat nafsunya yang tidak pernah tercukupi.
Baca juga: Ini Sosok Bunga Bangsa, Drummer Perempuan yang Memadukan Musik Metal dan Tradisional
Sehingga pada akhirnya tanpa sadar merusak semua yang ada di sekitarnya bahkan menghancurkan dirinya sendiri.
"Dalam lagu ini menceritakan cikal bakal yang menjadikan manusia memiliki ideologi sampah," kata Bunga, Rabu (31/5/2023) malam.
Remaja berusia 18 tahun ini menjelaskan, ideologi sampah merupakan perilaku buruk manusia yang dilakukan secara berulang-ulang hingga menimbulkan anggapan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang benar dan biasa.
Sebagai musisi yang ingin melestarikan bahasa daerah, Bunga pun memadukan bahasa Jawa Timur dalam lagu Rurah.
Pemilik nama asli Monica Kezia Bunga Keinanti ini menjelaskan alasan selalu menggunakan unsur etnik.
"Aku sering dengar lagu daerah di stadion, di rumah makan, sekolah dan ada keunikan tersendiri dari tiap daerah. Mungkin anak muda menganggap kurang keren, dan aku berdiskusi dengan tim supaya musik tradisional ini disukai lagi," ujarnya.
Baca juga: Bunga Bangsa Cerita Keinginannya Jadi Drummer Profesional, Latihan 6 Jam Tiap Hari
Komposisi lagu Rurah merupakan cross culture dari musik gamelan Banyuwangi dan ritme latin percussion.
Dalam karya ini, Bunga berkolaborasi dengan Komunitas Musik Tradisional Banyuwangi dan Komunitas Perkusi USBP (United States of Bandung Percussion).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Drummer-remaja-Bunga-Bangsa-mengeluakan-single-ketiga.jpg)