Tranformasi Pengolahan Tembakau Mole di Sumedang Kurangi Ongkos Produksi, Kini Jemur Cukup 15 Hari

Irisan tembakau mole khas Sumedang adalah yang terbaik. Selain tipis dan konstan dalam irisan sehingga membuat penampilannya indah

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Adityas Annas Azhari
Tribun Jabar/Kiki Andriana
Uu Mulyadi, petani tembakau di Dusun Karang Sambung, Desa Kadaka Jaya, Tanjungsari, Sumedang, Kamis (4/5/2023) 

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Tembakau mole di Sumedang yang melegenda telah dilestarikan secara turun-temurun. Pengolahan yang dulu dilakukan manual, kini sudah bertranformasi menjadi lebih efektif. 

Tranformasi di antaranya dirasakan Uu Mulyadi (65), petani tembakau di Dusun Karang Sambung RT03/09, Desa Kadaka Jaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang. Dia kini menjemur dengan memanfaatkan green house (rumah hijau). 

Green house disebut oleh Uu sebagai oven. Sebab, fungsinya sama seperti oven, menjemur tanpa takut cuaca tiba-tiba berubah dari panas terik menjadi hujan gerimis bahkan lebat. 

Di dalam tempat penjemuran itu ada rak bertingkat terbuat dari bambu. Di atas bambu-babu itulah tembakau iris dijemur.

Seorang anak bermain layangan di Pasar Lelang Tembakau di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Rabu (3/5/2023) .
Seorang anak bermain layangan di Pasar Lelang Tembakau di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Rabu (3/5/2023) . (Tribun Jabar/ Kiki Andriana)

Tembakau iris atau rajang didadarkan pada anyaman bambu bernama sasag. Satu sasag muat untuk satu lempeng tembakau. Di penjemuran itu, tembakau dijemur bersamaan dengan sasag itu.

"Dengan oven ini, lama penjemuran hanya 15 hari. Kalau manual, di bawah terik matahari langsung, wah bisa sebulan. Apalagi kalau cuaca buruk," kata Uu kepada TribunJabar.id, Kamis  (4/5/2023). 

Uu sudah 40 tahun bergelut dengan tembakau. Saat usianya 25 tahun, dia memulai dunia tembakaunya dengan membuka lahan baru yang penuh rumput untuk ditanami tembakau. 

Baca juga: Produk Tembakau Tanpa Asap Dikeluarkan PT HM Sampoerna

Dia bertani. Sukses bertani, dia belajar merajang. Dengan pisau besar, daun tembakau yang baru dipetik disusun dan digulung. Ujung gulungan diiris sampai daun habis. 

Irisan tembakau mole khas Sumedang adalah yang terbaik. Selain tipis dan konstan dalam irisan sehingga membuat penampilannya indah, soal rasa tembakau mole ini juga istimewa.

Bisa merajang, Uu belajar menjemur. Bisa menjemur, Uu belajar menjual tembakau. Kini, para bandar yang datang ke rumahnya di mana dia mengolah tembakau. Dalam sebulan, tembakau olahannya sampai 2 kuintal tembakau matang. 

"Kini karena sudah tua, saya hanya mengolah saja. Tembakau ini (yang sedang dijemur) datang dari Darmawangi (Desa di Kecamatan Tomo), lalu dijemur di sini," kata Uu. 

Baca juga: Imbas Tarif Cukai Tembakau Naik Rokok Ilegal Marak, Kantor Bea Cukai Bandung Musnahkan 4 Juta Batang

Staf UPTD Agrobisnis Tembakau Tanjungsari, Gilar, mengatakan daerah barat Kabupaten Sumedang seperti Tanjungsari, Sukasari, Cimanggung memang cocok untuk penjemuran tembakau

Sebab, selain punya terik, ada juga suhu lembap. Kelembapan menjadi kunci dalam penjemuran tembakau

"Berbeda dengan daerah Timur seperti Tomo, Paseh, dan daerah penghasil tembakau lainnya yang hanya bagus untuk penanaman, tetapi untuk penjemuran daerah-daerah itu hanya punya panas, tidak ada lembap," katanya. 

Baca juga: Ruang Lelang Tembakau Mole di Sumedang Tak Lagi Berfungsi, Pegiat Tembakau Sesalkan Monopoli

Kelembapan memang membuat tekstur tembakau menjadi kering dan liat. Jika tembakau hanya kering, teksturnya akan rapuh dan mudah patah saat dilinting. 

Para petani tembakau seperti Uu Mulyadi adalah penyokong kehidupan pelaku tembakau di Sumedang. Sebanyak 33 pengusaha tembakau di Sumedang, produknya bisa bercukai Rp 30 miliar per tahun. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved