Bersamaan dengan Serangan Bom Astana Anyar, Pentolan Bom Bali Umar Patek Bebas dari Penjara

Umar Patek bebas bersyarat dan dibebaskan Rabu (7/12/2022) dari Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo.

Editor: Ravianto
Bersamaan dengan Serangan Bom Astana Anyar, Pentolan Bom Bali Umar Patek Bebas dari Penjara
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Terdakwa kasus terorisme, Umar Patek (berbaju putih). Umar Patek bebas bersyarat dan dibebaskan Rabu (7/12/2022) dari Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo.

TRIBUNJABAR.ID, SIDOARJO - Kantor Polsek Astana Anyar, Kota Bandung Rabu (7/12/2022) pagi diguncang serangan bom

Di waktu yang sama, salah satu pelaku Bom Bali 2002 silam yakni Umar Patek bebas dari penjara.

Umar Patek bebas bersyarat dan dibebaskan Rabu (7/12/2022) dari Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo.

Ia telah menjalani dua per tiga masa pidana. Selama mendekam di Lapas Porong sejak 2015, Umar Patek sudah memperoleh banyak remisi.

Utamanya setelah ia menyatakan setia dengan NKRI.

Kebetulan saat pembebasan Umar Patek, terjadi ledakan bom bunuh diri di Polsek Astana Anyar Kota Bandung.

Umar Patek pamer kemesraan dengan sang isteri usai menerima SK WNI di Lapas Porong Sidoarjo, Rabu (20/11/2019).
Umar Patek pamer kemesraan dengan sang isteri usai menerima SK WNI di Lapas Porong Sidoarjo, Rabu (20/11/2019). (KOMPAS.COM/A. FAIZAL)

Umar Patek yang bernama asli Hisyam bin Alizein bebas melalui Program Pembebasan Bersyarat.

“Dan mulai hari ini sudah beralih status dari narapidana menjadi Klien Pemasyarakatan Bapas Surabaya dan wajib mengikuti program pembimbingan sampai dengan 29 April 2030,” kata Rika Aprianti, Koordinator Humas dan Protokol Ditjenpas Kementrian Hukum dan HAM melalui rilis resminya.

Dengan status tersebut, berarti apabila sampai dengan masa itu terjadi pelanggaran, maka hak bersyarat yang didapat Umar Patek akan dicabut.

Baca juga: Wali Kota Bandung Yana Mulyana Minta Tetap Tenang Setelah Bom Meledak di Polsek Astana Anyar

“Program PB yang diberikan merupakan hak bersyarat yang diberikan kepada seluruh narapidana yang telah memenuhi persyaratan adminstratif dan substanstif,” tambah Rika.

Persyaratan itu, antara lain sudah menjalankan dua pertiga masa pidana, berkelakuan baik, telah mengikuti program pembinaan dan telah menunjukan penurunan resiko seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan.

Sedangkan persyaratan khusus yang telah dipenuhi oleh Umar Patek adalah telah mengikuti program pembinaan deradikalissi dan telah berikrar setia NKRI.

“Pemberian PB kepada Umar Patek juga telah direkomendasikan Badan Nasional Penangulangan Teroris (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 (Densus 88),” ungkap Rika.

Kebebasan Umar Patek sejatinya sudah banyak diperbincangkan sejak ia mendapat remisi dalam peringatan HUT RI beberapa waktu lalu.

Halaman
12
Sumber: Surya
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved