BI Optimis Tidak Akan Resesi 2023, Begini Kata Pengamat Ekonomi Acuviarta Kartabi
keputusan BI menaikkan suku bunga acuan telah dipikirkan dengan matang sehingga dampaknya ke pertumbuhan ekonomi tidak separah negara lain.
Penulis: Nappisah | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan TribunJabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bank Indonesia (BI) optimis tidak akan mengalami resesi di tahun 2023.
Dilansir dari kompas.com, keputusan BI menaikkan suku bunga acuan telah dipikirkan dengan matang sehingga dampaknya ke pertumbuhan ekonomi tidak separah negara lain.
Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi menganalisis keadaan ekonomi di tengah ancaman resesi tersebut.
Baca juga: Kadin Jabar Minta Jangan Menjatuhkan Mental Terkait Prakiraan Kondisi Ekonomi Dunia di 2023
"Naiknya suku bunga otomatis likuiditas uang menjadi lebih ketat, akibatnya bunga naik, dana dari para investor luar negeri berpotensi ada kenaikan bunga," ujar Acuviarta Kartabi, saat ditemui Tribunjabar.id, Selasa (1/11/2022).
Jika yang keluar dana investor terlalu tinggi, maka ada tekanan terhadap likuiditas.
Acuviarta menambahkan, nilai tukar merupakan refleksi dari nilai tukar mata uang asing.
Jika dolar semakin langka maka rupiah semakin murah maka terjadi penurunan nilai tukar rupiah.
"Untuk merespon itu BI menaikan suku bunga, dengan harapan bisa tertahan dana tidak capital output ratio," ujar Acuviarta.
Hal tersebut dilakukan untuk nilai tukar rupiah lebih stabil
"Pertumbuhan ekonomi memang akan melambat, tapi tidak akan sampai resesi, tidak sampai negatif," ucapnya.
Menurutnya, barang yang dijual merupakan komoditas premier yang tidak ada di tempat lain contohnya tropical produk.
"Permintaan kita akan ditopang oleh itu, meskipun permintaan barang-barang sekunder atau hasil industri kemungkinan melambat seperti produk textile akan mengalami tekanan dari sisi ekspor," kata Acuviarta.
Baca juga: Sampah Masih Jadi Masalah, ITB Ajak Pemkot Bandung Hidupkan Gerakan Sirkular Ekonomi
Berhadapan dengan tingkat inflasi yang tinggi terutama komoditas pangan dan energi yang sebagian di import seperti gas, bahan bakar minyak.
"Akibatnya, produksi mengalami gangguan, ada negara yang berusaha mengamankan konsumsi pangannya di dalam negeri serta strategi dagang untuk menaikan harga komoditas," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/acuviarta-kartabi-pengamat-ekonomi-universitas-pasundan.jpg)