Sampah Masih Jadi Masalah, ITB Ajak Pemkot Bandung Hidupkan Gerakan Sirkular Ekonomi

Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas (PIKKC) Institut Teknologi Bandung (ITB) turut memikirkan masalah sampah di Kota Bandung.

Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Giri
Istimewa
Sekda Kota Bandung, Ema Sumarna (kanan), berfoto bersama perwakilan ITB, sesuai acara seminar Bincang Kota: Membangun Ekonomi Sirkular Menuju Lingkungan Cerdas di Gedung Auditorium IPTEKS CC Timur ITB. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas (PIKKC) Institut Teknologi Bandung (ITB) turut memikirkan masalah sampah di Kota Bandung.

Sebab, jika tak ditangani dengan serius, sampah plastik dan limbah industri dapat menimbulkan masalah besar.

Kepala PIKKC ITB, Suhono H Supangkat, mengatakan, sampah dapat merusak ekosistem alam.

Dalam rangka menyelesaikan permasalahan tersebut, pihaknya melalui PIKKC ITB mengusulkan program Smarter Word Living Lab (SWLL).

SWLL ini, kata dia, merupakan program laboratorium hidup yang dibuat sebagai bentuk dalam mendukung upaya mewujudkan smart and sustainibility city/campus dalam berbagai bidang.
Di antaranya bidang lingkungan.

"Acara ini membahas mengenai eksplorasi strategi untuk mengubah limbah industri untuk didaur ulang dan digunakan kembali dengan konsep sirkular ekonomi," ujar Suhono saat seminar Bincang Kota: Membangun Ekonomi Sirkular Menuju Lingkungan Cerdas di Gedung Auditorium IPTEKS CC Timur ITB, seperti dalam keterangan yang diterima Tribun, Sabtu (29/10/2022).

Sirkular ekonomi, kata dia, menjadi suatu tantangan bagi semua orang dengan cara memanfaatkan sampah agar bisa diolah menjadi lebih baik.

Selain itu, sampah menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat. 

Sebagai perwujudan dalam menggerakkan ekonomi sirkular, Suhono mengharapkan Kota Bandung dan ITB dapat menjadi pilot project untuk mengelola sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. 

"Program ini dilakukan untuk mempersiapkan kota/kampus dalam mengelola sampah baik makanan/sampah kemasan menjadi maksimal dan bisa dipakai. Ini merupakan bagian dalam meningkatkan kualitas hidup dan mencapai sustainable goals," katanya.

Suhono pun mengajak seluruh pemangku kepentingan agar bersama-sama berinovasi dan memberikan solusi dalam mengembangkan dan menciptakan lingkungan cerdas yang lebih baik.

Sekretaris Daerah Kota Bandung, Ema Sumarna, mengatakan, masalah sampah saat ini masih menjadi isu strategis. 

"Sampah masih menjadi paradigma masalah, bukan potensi. Faktanya, sampah belum memberikan feedback atau kontribusi. Konsekuensi dari jumlah penduduk adalah timbulan sampah yang dihasilkan sekitar 1.500 sekian ton sehari atau 0.63 kkilogram  per orang," ujar Ema. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Dudy Prayudi, menambahkan, hingga saat ini partisipasi masyarakat masih kurang dalam pengelolaan sampah. 

"Bank sampah Kota Bandung merupakan gabungan dari dua bank sampah induk. Regulasi bank sampah sudah ada dan jelas, yaitu 152 unit terdiri atas 4923 nasabah," ujar Dudy. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved