Senin, 13 April 2026

Pidato Kehormatan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2022

UPI menyelenggarakan pidato kehormatan guru besar Pada Tahun 2022 secara luring digedung Achmad Sanusi pada hari Rabu, 19 Oktober 2022

dok. UPI
UPI menyelenggarakan pidato kehormatan guru besar Pada Tahun 2022 secara luring digedung Achmad Sanusi pada hari Rabu, 19 Oktober 2022 

TRIBUNJABAR.ID,- Universitas Pendidikan Indonesia menyelenggarakan pidato kehormatan guru besar Pada Tahun 2022. Kegiatan diselenggarakan secara luring digedung Achmad Sanusi pada hari Rabu, 19 Oktober 2022. Kegiatan diawali dengan sambutan Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si selaku Ketua Dewan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia. Para guru besar yang mendapatkan kesempatan untuk melakukan pidato kehormatan yaitu Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd yang merupakan Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Satra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Cece Rakhmat, M.Pd yang merupakan guru besar pada Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia, serta Prof. Dr. Syamsu Yusuf LN, M.Pd yang merupakan guru besar pada Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia.

Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si selaku Ketua Dewan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia. Menjelaskan bahwa pidato kehormatan guru besar ini diperuntukan bagi guru besar Universitas Pendidikan Indonesia untuk menyampaikan legacy professional nya. Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si menjelaskan bahwa hari ini, kita semuanya mendengarkan legacy profesional dari para guru besar yang telah mereka tanamkan kepada kehidupan yang mereka sentuh dengan para koleganya, peserta didik atau mahasiswa dan kepada siapa saja yang pernah berinteraksi dalam sepenjang jalan kehidupan. Pidato kehormatan guru besar ini merupakan komitmen para guru besar yang tak pernah kunjung padang pada panggilan profesi dan almamaternya.

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA mengucapkan selamat atas keberhasilannya dalam menghabdi kepada dunia profesi yang kita tekuni bersama; sebuah accomplishment yang membanggakan baik bagi keluarga maupun bagi UPI itu sendiri. Selain itu mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para ibu dan bapak yang telah mencapai masa purna tugas dalam jabatan guru besar, semoga semua jasa, karya, dan bimbingan yang telah diabdikannya, menjadi barokah dan mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Menurutnya, dalam era digitalisasi dan knowledge economy ini, kini tengah terjadi sebuah pergeseran nilai (shifting values) yang semakin mewarnai perubahan dalam sistem ekonomi dunia dan tentunya Indonesia. Sebagai bagian integral dari sistem ekonomi, UPI semakin dituntut untuk mengikuti arah shifting values tersebut, agar semakin berperan signifikan dalam membangun knowledge economy. Shifting values inilah yang akan menjadi tantangan bagi UPI untuk berkembang mengikuti zaman yang berubah sehingga menjadi universitas yang paling tinggi nilai dan manfaatnya di mata masyarakat dan bangsa.

Prof. Dr. M. Solehuddin, M.Pd., MA menjelaskan bahwa Sejak menyandang status PTN-bh, UPI telah berkembang pesat seperti yang ditunjukkan dalam World University Rankings (WUR) tahun 2022. Kita patut berbangga, kini UPI dipercaya oleh Pemerintah untuk menjadi salah satu Center of Excellence (CoE) pengembangan program pendidikan (pre-service) dan pelatihan (in-service) teknik dan vokasi yang berstandar nasional dan internasional, bagi guru, instruktur, pemimpin, dan peserta umum.

Pada kesempatan pertama, pidato kehormatan disampaikan oleh Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd yang merupakan Guru Besar pada Fakultas Pendidikan Bahasa dan Satra (FPBS) Universitas Pendidikan Indonesia dengan mengangkat judul “Strategi dan Otonomi Belajar Bahasa Dalam Konteks Kebijakan Pendidikan Merdeka”.

Menurutnya, strategi mengetengahkan satu perangkat pilihan yang peserta didik secara sadar memilih dari perangkat tersebut sesuai waktu yang sesungguhnya, real time, dengan mempertimbangkan perubahan yang terjadi di lingkungan, untuk mengoptimalkan peluang keberhasilan mereka dalam mencapai tujuan mereka dalam belajar dan menggunakan bahasa sasaran. Dalam proses belajar, siswa harus memanfaatkan pengetahuan tentang kemampuan diri mereka sendiri sebagai pembelajar dan memanfaatkan pengetahuan tentang tugas-tugas dalam belajar. Selain itu, mereka harus memahami tentang strategi yang tepat untuk digunakan dalam konteks tertentu dalam mengembangkan pengetahuan antara (interface) yang menghubungkan apa yang telah mereka miliki dengan apa yang ingin dikuasainya dalam suasana lingkungan belajarnya

Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd menjelaskan bahwa konsep strategi pembelajaran dan otonomi pembelajar muncul sebagai salah satu respon terhadap tantangan dan perubahan yang muncul dalam bidang pendidikan. Baik strategi pembelajaran maupun otonomi pembelajar adalah atribut pembelajar dalam konteks belajar itu sendiri. Kesadaran peserta didik tentang strategi belajarnya dan pemanfaatan strategi tersebut dapat menyebabkan dan atau memperkuat kemandirian pembelajar itu sendiri, yang kemudian mengambil kendali lebih besar dari proses pembelajaran mereka sendiri. Selanjutnya, penggunaan teknologi dalam mengembangkan strategi pembelajaran dan otonomi pembelajar juga merupakan kunci pembelajaran di abad 21 ini.

Prof. Dr. Nenden Sri Lengkanawati, M.Pd menjelaskan bahwa kebijakan merdeka belajar dan kampus merdeka sangat sejalan dengan prinsip penguatan strategi belajar (learning strategies) dan penguatan kemandirian pembelajar (learner autonomy) itu sendiri. Menurutnya learning strategies yang telah dirumuskan dalam Strategic Self-Regulation membuahkan upaya positif yang dapat dilakukan dalam proses belajar-mengajar. Menurutnya, pemanfaatan strategi belajar membentuk pembelajar yang mandiri. Strategi belajar dan kemandirian pembelajar itu jangan dilihat sebagai sasaran akhir dari upaya pendidikan. Justru keduanya harus dilihat sebagai instrumen dan mekanisme dalam mencapai tujuan pendidikan itu sendiri.

Dalam konteks pembelajaran bahasa, tujuannya tentu saja adalah kemahiran berbahasa yang paripurna. Strategi belajar bahasa dan kemandirian pembelajar Bahasa mempunyai posisi yang penting dalam konteks Bahasa Inggris sebagai lingua franca, English as lingua franca (ELF), yang dipahami sebagai bahasa kontak non-lokal yang digunakan lintas komunitas secara global. Learning strategies dan learner autonomy, tersambut baik oleh kebijakan merdeka belajar dan kampus merdeka, yang telah dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Persoalan praktis kontekstualnya adalah bagaimana penerjemahan kebijakan ini dalam upaya pendidikan keseharian, yang salah satu kata kuncinya adalah komitmen penuh dari semua pemangku kepentingan

Pada kesempatan kedua, pidato kehormatan disampaikan oleh Prof. Dr. Cece Rakhmat, M.Pd, yang merupakan Guru Besar Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia dengan mengangkat judul “Self-Therapy: Melintas Rintang Menuju Gerbang Kebahagiaan’’.

Prof. Dr. Cece Rakhmat, M.Pd menjelaskan bahwa manusia akan berusaha memecahkan masalah baik meminta bantuan kepada konselor, psikolog, psikiater, bahkan kepada teman, orang tua, saudara, dan sebagainya. Hal yang menarik adalah keberadaan orang lain ini membawa cermin besar untuk memandang kembali diri kita sendiri. Pada akhirnya, pemecahan masalah itu justru muncul dari pikiran kita sendiri, setelah menjernihkan pandangan, mendefinisikan kekalutan, menerjemahkan ulang tujuan hidup yang semula porak-poranda. Inilah yang kemudian memutar arah haluan kita dari kelemahan menuju kelebihan diri.

Prof. Dr. Cece Rakhmat, M.Pd menjelaskan Perlunya merekonstruksi tujuan ini merupakan salah satu langkah jitu memecahkan masalah hidup. Terapi diri (self therapy) menjadi suatu langkah yang harus ditempuh dan paling jitu dengan menggunakan pikiran kita. Kesadaran diri untuk berpikir menjadi kekuatan yang mujarab dalam memecahkan masalah. Biasanya kegiatan ini dilakukan bagi orang-orang yang merasa yakin bahwa dirinya mampu memecahkan masalah. Proses merenung dan berusaha memecahkan masalah karena sangat mendesak untuk mengurai masalah yang dihadapi, setidaknya itu pengalaman saya yang juga dialami secara intersubyektif. Di dalam logika, kita mencoba menelusuri apa gerangan yang menyebabkan kita memiliki masalah.

Keterampilan memecahkan masalah kehidupan dengan self therapy menjadi penting untuk dipelajari oleh setiap orang, terlepas dari manapun kalangan mereka. Kita tidak menafikan bahwa kecemasan, kekurangan, kekecewaan, sakit hati, kemarahan, kesedihan, dan berbagai bentuk emosi negatif selalu menggempur kita detik demi detik. Konsep self therapy ini sangat luas mengacu pada gagasan untuk menangani masalah emosional atau psikologis seseorang, tanpa bantuan terapis.

Prof. Dr. Cece Rakhmat, M.Pd menjelaskan bahwa sSelf therapy sejatinya mengantarkan kita untuk kembali pada potensi positif yang mungkin telah lama menunggu untuk dikembangkan. Potensi untuk melintas rintang, melewati segala kekecewaan, keresahan, kecemasan, kesedihan, kemarahan, dan sakit hati. Melewati itu semua dan mengubahnya menjadi keyakinan baru, menghadirkan perspektif berbeda yang lebih konstruktif, dan lebih memiliki kesadaran untuk mendengarkan nurani terdalam dari diri kita. Nurani, anugerah Tuhan, yang selalu bergema sejak kita bayi; bangkit dan berjalanlah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved