Tragedi Arema vs Persebaya

Dirut PT LIB & Polisi yang Perintahkan Penembakan Gas Air Mata Tersangka Tragedi Stadion Kanjuruhan

Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ahmad Hadian Lukita, sebagai tersangka dalam tragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 131 Aremania.

Surya
Suporter Arema FC, Aremania, turun ke lapangan seusai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 2022-2023 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022). Seratus lebih Aremania dikabarkan meninggal dunia dalam insiden ini. 

MALANG, TRIBUN - Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Ahmad Hadian Lukita, sebagai tersangka dalam tragedi Stadion Kanjuruhan yang menewaskan 131 Aremania. Tak hanya Lukita, polisi juga menetapkan Ketua Panitia Pelaksana (Panpel), Abdul Haris sebagai tersangka.

"Ada enam tersangka," ujar Kapolri Jenderal Listyo Sigit, yang menyampaikan langsung penetapan keenam tersangka
tragedi Stadion Kanjuruhan dalam jumpa pers di Mapolresta Malang Kota, Kamis (6/10) malam.

SS, security officer, yang saat tragedi Stadion Kanjuruhan terjadi bertugas juga ditetapkan sebagai tersangka.

Baca juga: DIBONGKAR Kapolri, ada 11 Anggota Polisi yang Diduga Tembak Gas Air Mata di Stadion Kanjuruhan

Tiga tersangka lainnya adalah Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi, dan anggota Brimob Polda Jawa Timur, AKP H.

Keenam tersangka, ujar terang Kapolri, memiliki peran berbeda dalam tragedi ini.

Dirut PT LIB, ujar Kapolri, tidak memenuhi sertifikasi layak fungsi terhadap Stadion Kanjuruhan. Persyaratan sertifikasi layak fungsinya tidak tercukupi dan memakai hasil sertifikasi tahun 2020.

Tersangka lainnya, Ketua Panpel, terang Kapolri, diduga tidak membuat peraturan keselamatan dan kemanan serta mengabaikan keamanan Stadion Kanjuruhan yang berkapasitas 38 ribu penonton dengan menjual 42 ribu tiket.

SS, selaku security officer, menurut Kapolri, menjadi tersangka karena memerintahkan steward meninggalkan pintu gerbang. Padahal steward seharusnya tetap berada di sana.

Tiga tersangka lainnya, yang merupakan anggota kepolisian, ujar Kapolri menjadi tersangka atas kesalahan yang sama.

"Mereka (tiga anggota kepolisian yang menjadi tersangka) memerintahkan anggota menembakkan gas air mata," kata Kapolri.

Para tersangka dijerat Pasal 359 dan 360 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan kematian dan Pasal 103 Jo Pasal 52 UU RI Nomor 11 Tahun 2022 tentang keolahragaan. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo menyebut para tersangka terancam dengan hukum maksimal 5 tahun penjara.

Dalam konferensi pers semalam, Kapolri juga mengungkapkan adanya 20 anggota polisi yang melanggar etik dalam tragedi di Kanjuruhan. Mereka telah diperiksa oleh tim internal Polri.

"Terkait dengan pemeriksaan internal, kita telah memeriksa 31 orang personel. Ditemukan bukti yang cukup terhadap 20 orang terduga pelanggar," ujar Kapolri.

"Terkait temuan tersebut, tentunya setelah ini dengan segera akan dilaksanakan proses untuk pertanggungjawaban etik. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan, jumlah ini masih bisa bertambah," lanjutnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved