Saat Bobotoh Persib, The Jakmania, Aremania, dan Bonek Berada di Satu Tempat Bernama Perdamaian

Tragedi Kanjuruhan yang merenggut nyawa 125 orang menjadi momentum untuk langkah perdamaian antar-suporter yang selama ini selalu berseteru.

Editor: Giri
Kompas.com/Suci Rahayu
Bobotoh yang menyaksikan langsung laga Arema FC vs Persib Bandung di Kanjuruhan di Liga 1 2022-2023. Keberadaan bobotoh di Kanjuruhan merupakan langkah maju di tengah ketidakakuran selama ini. 

TRIBUNJABAR.ID - Tragedi Kanjuruhan yang merenggut nyawa 125 orang menjadi momentum untuk langkah perdamaian antar-suporter yang selama ini selalu berseteru.

Peristiwa di Stadion Kanjuruhan, 1 Oktober 2022, seakan membuka mata, tak perlu lagi ada nyawa yang gugur karena sepak bola.

Karena sejatinya, tak ada pertandingan sepak bola yang seharga nyawa! 

Tragedi Kanjuruhan seakan menyadarkan suporter-suporter klub di Pulau Jawa seperti Brajamusti dan The Maident (PSIM Yogyakarta), Pasoepari, Ultras, dan GK Samber Nyawa (Persis Solo), Bonek (Persebaya), The Jakmania (Persija Jakarta), Bobotoh dan Viking (Persib Bandung), BCS dan Slemania (PSS Sleman), Aremania (Arema), Panser Biru dan Snex (PSIS Semarang), sepakat damai.

Stadion Mandala Krida di Kota Yogyakarta menjadi saksi bisu.

Tak ada lagi rivalitas maupun gengsi antar-suporter yang harus diperdebatkan, perdamaian adalah mutlak.

Baca juga: Tragedi Kanjuruhan: Aremania Beri Waktu 7 Hari, Jika Tak Ada Tersangka Ancam Turun ke Jalan

Ribuan suporter dari berbagai klub se-Pulau Jawa itu berkumpul di halaman parkir Stadion Mandala Krida, Selasa (4/10/2022) malam WIB.

Tragedi di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan ratusan suporter Arema FC menjadi momentum refleksi suporter di Pulau Jawa mengubur dalam dendam masa lalu, menyudahi permusuhan dan mulai merajut perdamaian.

"Kita suporter yang hadir malam ini akan menghentikan kebencian yang ada di hati kita," kata Presiden Brajamusti, Muslich Burhanuddin, kepada Tribun Jogja.

"Kita hanya akan mewariskan sukacita pada anak cucu kita. Insyaallah dengan ikhlas atas kejadian telah lalu tidak akan lagi terjadi khususnya di DIY dan sekitarnya. Kita bersatu dan sepakat," ujar Thole, sapaan akrab Muslich Burhanuddin.

Menurutnya, mewarisi perdamaian untuk generasi berikutnya adalah hal baik yang harus diupayakan saat ini.

"Memutus rantai rivalitas (destruktif) bisa dimulai dari diri kita sendiri mulai saat ini agar generasi setelah kita bisa menikmati sepak bola penuh suka cita," ujar dia.

Rivalitas Hanya 90 Menit Jika sepak bola Indonesia hidup lagi, perubahan harus terjadi.

Dari sisi suporter, tak ingin adanya korban karena gesekan.

Baca juga: Kisah Penjual Nasi Goreng Buka 50 Kantung Jenazah Satu-satu Cari Anaknya Korban Tragedi Kanjuruhan

Halaman
12
Sumber: Kompas
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved