Bicang Tokoh
Sosok Kang Acel, Pegiat Komunitas Ayah Hebat di Bandung, Prinsipnya ''Sempat Walaupun Sempit''
Kang Acel, pegiat komunitas Ayah Hebat di Bandung, prinsip komunikasi efektifnya adalah Sempat Walupun Sempit.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Kisdiantoro
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sempat walupun sempit. Itu adalah prinsip membangun komunikasi efektif Acep Lulu Iddin, pendiri komunitas Ayah Hebat, bersama keluarga.
Sebagai seorang entrepeneur, konsultan bisnis, relawan di banyak kegiatan sosial, dan trainer, Kang Acel, demikain biasa disapa, akan banyak berkegiatan di luar rumah.
Bahkan, ia kerap bepergian ke luar kota untuk mengontrol usahanya. Meski demikian, tak berarti komunikasi dengan istri dan anak-anak menjadi luntur.
"Rumusnya sederhana, sempat walaupun sempit. Saya selalu memberi tahu kepada keluarga kemana akan pergi, pulang jam berapa. Kalau pulang malam, saya juga selalu report. Jadi mereka tahu, ayah keluar kota, bukan untuk kongkow, tapi bekerja," ujar suami Dian Widianti ini, dalam program "Bincang Tokoh" bersama Tribun Jabar.
Baca juga: Kang Acel, Warga Bandung Pendiri Ayah Hebat, Ingin Para Ayah Temukan Kehebatannya, Dikangenin Anak
Sepulang kerja, tentu lelah. Tapi jika sang anak memintanya membacakan buku atau mengajak bermain, Kang Acel pun dengan senang hati mengikutinya. Anak pun gembira.
Hal sederhana itu, akan menjadi momen yang sangat berkesan kelak ketika anak-anak menjadi dewasa.
Keberhasilan membangun komunikasi yang baik dengan keluarga, membuatnya menjadi sosok yang keberadaanya sangat dirindukan.
Melalui grup Whatsapp keluarga, anak kerap bertanya kapan Kang Acel pulang dari dinas luar kota. Lalu, ditimpali anak yang lain, yang memintanya untuk tidak menggangu ayahnya karena sedang bekerja.
"Anak saya yang kecil, suka kirim voice note di grup keluarga. "abah kapan pulang?" Rasanya gimana ya, bahagia banget, jadi ayah yang dirindukan anak-anak," ujarnya.
"Keberadan ayah, ketiadannya sama dengan keberadaanya. Itulah ayah hebat, kalau dirindukan, dicintai, aduh. Para tribunner pasti ingin dihargai, dihormati, dimanusiakan."
Bagi Kang Acel, keluarga dimaknai dalam tiga hal. Pertama, keluarga adalah ibadah. Hadis Nabi Muhammad SAW, menyebut bahwa menikah adalah menyempurnakan sebagai dari agama. Maka, dia menikah dan jadilan sebuah keluarga. Pahala pun mengalir karena menikah adalah ibadah.
Kedua, keluarga adalah cara membangun mimpi. Cita-cita tak mudah diwujudkan sendirian. Kolaborasi menjadi jalan mudah mewujudkan mimpi. Mitra terdekat adalah istri dan anak-anak.
Ketiga, keluarga adalah cara mewujudkan rasa kemanusiaan. Apa? Tempat berbagi kasih sayang, menghargai, dihormati.
"Maka, bagi para ayah, agar tidak salah jalan setelah keuangan bagus, ingat visi dan misi saat membangun keluarga. Hidup itu sementara, untuk apa kalau tidak untuk berbuat baik," ujarnya.
Biodata Kang Acel
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Kang-Acel-Bersepeda_1.jpg)