Pentingnya Mencegah Stunting Agar Tak Terjadi pada Anak, Ini Sasaran Primer dan Sekundernya

Kasus stunting di Indonesia masih banyak ditemui di beberapa daerah. Stunting adalah balita pendek atau ukurannya tak sesuai standar.

Editor: Giri
Istimewa
Penyampaian materi stunting secara kepada remaja putri Retno Wulandari di SMPN 1 Sumobito, Jombang, Jawa Timur. 

TRIBUNJABAR.ID - Kasus stunting di Indonesia masih banyak ditemui di beberapa daerah. Stunting adalah balita pendek atau ukurannya tak sesuai standar.

Stunting terjadi, relevansinya adalah dengan persoalan gizi.

Untuk mereduksi kasus stunting di Indonesia, Sekolah Farmasi ITB membuat kegiatan Peningkatan Peran dan Kualitas Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Remaja Putri dalam Pencegahan Stunting di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama dengan SMPN 1 Sumobito dan Desa Carang Rejo yang mendapatkan dukungan hibah PKM ITB 2022 dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITB.

Acara yang berlangsung di SMPN 1 Sumobito, Kabupaten Jombang, dan Desa Carang Rejo, Kabupaten Jombang, tersebut berlangsung Kamis (11/8/2022) dan Sabtu (13/8/2022).

Yang terlibat sebagai peserta adalah 50 siswi SMPN 1 Sumobito, 10 kader kesehatan, dan 20 ibu hamil dan menyusui di Desa Carang Rejo.

Mereka mendapat edukasi berkenaan dampak panjang stunting yang di antaranya postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya), meningkatnya risiko obesitas, dan penyakit lainnya.

Baca juga: Sumedang Terbaik Pertama se-Jabar dalam Penerapan 8 Aksi Konvergensi Penurunan Stunting

Kemudian menurunnya kesehatan reproduksi, kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa sekolah, serta produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal.

Berdasarkan badan pusat statistik Kabupaten Jombang tahun 2020 tercatat jumlah remaja putri 99.079 jiwa. Sedangkan jumlah kelahiran pada 2019 adalah 13.262 jiwa.

Remaja putri tersebut merupakan potensi yang besar untuk dilakukan pencegahan sekunder, dan jumlah kelahiran merupakan potensi besar untuk dilakukan pencegahan primer.

Oleh karena Sekolah Farmasi ITB melakukan edukasi terkait stunting kepada ibu hamil atau ibu menyusui dalam rangka mendukung pencegahan primer, dan perlu dilakukan edukasi kepada remaja putri dalam rangka pelaksanaan pencegahan sekunder.

Baca juga: Sambangi Bupati Garut, IA ITB Jabar dan Rumah Amal Bahas Penanganan Stunting Hingga Pendidikan

Mereka mendapat materi seputar stunting yang meliputi definisi stunting, tanda dan gejala stunting, penyebab stunting, dampak stunting, dan pencegahan stunting.

"Kesadaran akan permasalahan kurang gizi yang menyebabkan postur tubuh anak kerdil atau yang dikenal stunting menjadi tanggung jawab kita bersama. Kegiatan penyuluhan ini sebagai salah satu bentuk edukasi masyarakat akan pentingnya pencegahan stunting pada anak. Semoga dengan diselenggarakannya kegiatan ini bermanfaat dan menekan angka stunting khususnya di Kabupaten Jombang," ucap ketua pelaksana kegiatan, Hubbi Nashrullah Muhammad, yang merupakan dosen KK Farmakologi-Farmasi Klinik SF ITB.

Baca juga: Atalia Apresiasi Pemkot Sukabumi yang Konsinten Tangani Stunting, Namun Ingatkan Tumbuh Kembang Anak

Retno Wulandari, dokter spesialis anak yang memberikan materi stunting kepada remaja putri, berharap mereka sudah mengerti bagaimana cara mencegah stunting.

"Salah satu yang dapat dilakukan remaja putri adalah mengonsumsi tablet tambah darah untuk menghindari penyakit anemia. Kalau anemia, nanti berisiko melahirkan bayi stunting," ucapnya.

Sedangkan Yunika, dokter spesialis anak yang memberikan materi kepada kader kesehatan, ibu hamil dan menyusui, menyampaikan mengenai ciri-ciri anak yang terkena stunting.

"Badannya pendek, berat badannya kurang. Nah yang dapat menentukan anak ibu mengalami stunting yaitu dokter di puskesmas, tidak boleh ibu menentukannya sendiri. Tetap harus konsultasi ke dokter," katanya.

Dia mengatakan, yang penting dikonsumsi ibu hamil dan menyusui agar anaknya tidak stunting adalah vitamin dan mineral. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved