DPPKBP3A Gandeng Sejumlah RS di Cirebon, Visum Korban Kekerasan Perempuan dan Anak Kini Gratis

Rumah sakit yang telah bekerja sama dengan DPPKBP3A Kabupaten Cirebon di antaranya adalah RSUD Waled, RSUD Arjawinangun, RS Paru Sidawangi.

Pixabay
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cirebon menggandeng sejumlah rumah sakit untuk penanganan korban kasus kekerasan perempuan serta anak. 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( DPPKBP3A ) Kabupaten Cirebon menggandeng sejumlah rumah sakit untuk penanganan korban kasus kekerasan perempuan dan anak.

Kabid PPA DPPKBP3A Kabupaten Cirebon, Ida Laila Rupaida, mengatakan, kerja sama itu untuk membiayai visum para korban kasus kekerasan perempuan dan anak.

Sebab, menurut dia, tidak sedikit korban yang berasal dari keluarga kurang mampu sehingga kesulitan untuk membayar biaya visum di rumah sakit.

Baca juga: Hingga Juli 2022, DPPKBP3A Kabupaten Cirebon Terima Puluhan Laporan Kekerasan pada Perempuan & Anak

"Padahal, bukti visum merupakan salah satu bukti penting dalam kasus kekerasan perempuan dan anak," Ida Laila Rupaida saat ditemui di DPPKBP3A Kabupaten Cirebon, Jalan Sunan Kalijaga, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Selasa (26/7/2022).

Karenanya, pihaknya telah menandatangani MoU dengan sejumlah rumah sakit di Kabupaten Cirebon untuk menanggung biaya korban kekerasan.

Rumah sakit yang telah bekerja sama dengan DPPKBP3A Kabupaten Cirebon di antaranya, RSUD Waled, RSUD Arjawinangun, RS Paru Sidawangi.

Ia mengatakan, masing-masing rumah sakit akan mengkaver wilayah timur, tengah, dan barat Kabupaten Cirebon sehingga para koban terfasilitasi sepenuhnya.

"Jadi, saat korban menjalani visum di rumah sakit kebutuhan pelaporan, biayanya akan ditanggung oleh pemerintah daerah," ujar Ida Laila Rupaida.

Ida menyampaikan, sejauh ini para korban yang telah melapor rata-rata mengalami kekerasan seksual dan pelakunya orang dekat.

Baca juga: KPAD Subang Minta Orang Tua Waspada, Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak Naik, Pelaku Orang Deket

Selain itu, pihaknya mengakui terdapat beberapa faktor yang kerap menjadi pemicu kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Cirebon.

Di antaranya, faktor ekonomi, kurang perhatian orang tua, pergaulan, pengaruh minuman keras, sering menonton video syur, dan lainnya.

"Faktor yang paling sering menjadi pemicu kasus kekerasan perempuan dan anak adalah faktor ekonomi," kata Ida Laila Rupaida.

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved