KPAD Subang Minta Orang Tua Waspada, Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak Naik, Pelaku Orang Deket

Kekerasan seksual terhadap anak tahun lalu hingga pertengahan tahun 2022 terus meningkat. Para pelakunya pelakunya adalah orang terdekat

Penulis: Ahya Nurdin | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/ Dian Herdiansyah
ILUSTRASI Kekerasan seksual - Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Subang, mengaku prihatin dengan banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap anak. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Subang, Ahya Nurdin

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Subang mengaku prihatin dengan banyaknya kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kabupaten Subang Meri Mariam, di Gedung Gabungan Organisasi Wanita (GOW), pada Selasa, 19 Juli 2022.

Meri mengatakan, di tahun 2021 saja, dalam waktu setengah tahun sudah ada 18 kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Baca juga: Kasus Kekerasan Seksual di Sumedang Melesat, P2TP2A Bagikan Buku Saku Pencegahan Pelecehan

"Awal saya jadi ketua KPAD Subang di pertengahan tahun 2021 lalu, selama periode Juni hingga Desember 2021 tercatat ada 15 kasus kekerasan seksual yang menimpa anak-anak berusia 10-12 tahun, dan sekarang dalam waktu Januari hingga Juni 2022, sudah ada 32 kasus kekerasan seksual terhadap anak" tuturnya.

Menurutnya, kasus kekerasan seksual terhadap anak tahun lalu hingga pertengahan tahun 2022 terus meningkat. Para pelakunya pelakunya adalah orang terdekat seperti kakek, paman, kakak ipar, dan kakak tiri.

"Hal itu dikarenakan masa Pandemi Covid-19 sehingga anak hanya diam di rumah dan menyebabkan terjadinya tindak asusila tersebut," ucapnya

Terus meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur, pihak KPAD Subang terus gencar melakukan sosialisasi untuk pencegahan terhadap anak ke sekolah dan pesantren.

"KPAD berkerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Subang untuk melakukan roadshow ke sekolah-sekolah untuk memberikan sosialisasi pencegahan atau kewaspadaan kejahatan seksual kepada anak sekolah dan santriwati di pesantren," katanya

Baca juga: BERITA SUBANG: Waspada! Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak di Bawah Umur Terus Meningkat

Sosialisasi ke sekolah dan pesantren, hal itu bertujuan agar tidak menimbulkan stigma negatif terhadap pondok pesantren, umumnya instansi pendidikan di Kabupaten Subang.

"Jangan sampai, karena ada pelaku kejahatan seksual dari oknum pendidik, instansi pendidikan tersebut tercoreng namanya, sehingga tak ada orang tua yang mau menyekolahkan anaknya ke ponpes maupun sekolah yang pernah terjadi kekerasan seksual terhadap anak yang dilakukan oleh oknum pendidik" tandasnya.

Terkait upaya pendampingan terhadap anak korban kekerasan seksual, sebagai Ketua KPAD, Meri berupaya untuk mengawal, mengawasi, dan mencoba untuk mendampingi.

"Sebagai bentuk empati kita kepada korban, kami terus menemui mengajak mereka berbicara sampai kasusnya selesai, sekarang kami sedang mengawal peristiwa terakhir di Kalijati," ucapnya.

Dikatakannya, saat ini masih ada korban yang masih mengalami trauma dan perlu mendapatkan pendampingan untuk trauma healing.

"Korban dari tahun lalu saja masih ada beberapa yang mengalami trauma, dan kami bersama DP2KBP3A bekerja sama mendampingi mereka dengan mendatangkan psikiater," pungkasnya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved