Pengakuan Residivis Asal Cirebon yang Berjualan Obat Keras di Rumahnya, untuk Makan dan Rokok

Pria Cirebon yang sehari-hari menganggur tersebut terbukti berjualan obat keras terbatas di rumahnya sejak dua bulan terakhir.

Tribun Cirebon/ Ahmad Imam Baehaqi
Kasat Reserse Narkoba Polresta Cirebon, Kompol Danu Raditya Atmaja (kiri), saat mengintrogasi MY di Mapolresta Cirebon, Jalan R Dewi Sartika, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Sabtu (16/7/2022). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Residivis berinisial MY (28) asal Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, harus berurusan dengan petugas Polresta Cirebon.

Pasalnya, pria yang sehari-hari menganggur tersebut terbukti berjualan obat keras terbatas di rumahnya sejak dua bulan terakhir.

Bahkan, wajahnya pun tampak hanya tertunduk lesu selama konferensi pers di Mapolresta Cirebon, Jalan R Dewi Sartika, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Sabtu (16/7/2022).

Baca juga: Tak Kapok-kapok, Residivis di Cirebon Ini Dicokok Polisi, Jualan Obat Keras di Rumahnya

Saat itu, MY terlihat mengenakan kaus oranye yang bertuliskan "Tahanan Polresta Cirebon" di punggunggnya dan kedua tangannya juga tampak terborgol.

Selama konferensi pers, MY irit bicara, terutama saat Kasat Reserse Narkoba Polresta Cirebon, Kompol Danu Raditya Atmaja, memberikan sejumlah pertanyaan.

"Ya buat sehari-hari, Pak. Beli makan dan rokok," jawab MY saat ditanya mengenai penggunaan uang yang didapat dari penjualan obat keras tersebut.

Selebihnya, MY terlihat hanya menganggukkan kepala sambil beberapa kali berujar, "Iya, Pak,", "Betul, Pak," dan "Benar, Pak."

Misalnya, saat Danu bertanya mengenai statusnya yang merupakan residivis kasus serupa dan besaran keuntungan yang didapat dari penjualan obat keras terbatas itu.

MY juga sempat menjawab ketika ditanya mengenai alasan berjualan obat keras di rumahnya karena merasa lebih aman dan tidak mudah terendus petugas.

Baca juga: Dua Residivis Asal Jatinangor Dicokok Polisi, Curi Handphone dan Todong Kurir Paket yang Istirahat

"Kalau di rumah yang beli enggak banyak, rata-rata sehari laku satu hingga dua strip saja," kata MY di hadapan petugas.

Sementara Danu menyampaikan, dari hasil pemeriksaan sementara MY mengakui mendapat keuntungan Rp 30 ribu - Rp 150 ribu untuk setiap 1000 butir obat keras yang berhasil dijual.

Selain itu, menurut dia, rata-rata konsumen MY merupakan kalangan pemuda sekitar Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, yang berusia 17 tahun - 20 tahun.

Pihaknya mengamankan 3136 butir obat keras, uang tunai hasil penjualan, dan ponsel milik MY yang biasa digunakan untuk bertransaksi dengan pemasok maupun konsumennya.

"Kami juga masih mengembangkan kasusnya untuk mengungkap bandar yang memasok obat keras terbatas tersebut kepada MY," ujar Danu Raditya Atmaja.

Sumber: Tribun Cirebon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved