Rawan Terjerat Narkoba, Semua Petugas Rutan Garut Dites Urine, Begini Hasilnya

Tes urine dilakukan kepada semua petugas di Rutan Kelas II B Garut. Ini hasilnya.

Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: taufik ismail
Tribun Jabar/Sidqi Al Ghifari
Puluhan pegawai Rumah Tahanan Kelas II B Garut mejalani tes urine, Senin (11/7/2022). Hasil tes diketahui semuanya negatif. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Puluhan petugas Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Garut menjalani tes urine, Senin (11/7/2022).

Kegiatan itu dilakukan sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba di lingkungan rutan.

Kepala Rutan Kelas II B Garut, I Wayan Bondan Wahyu Kusuma mengatakan, tes urine itu dilakukan kepada 59 petugas dan pegawai rutan bekerja sama dengan BNN Kabupaten Garut.

"Jadi kegiatan ini untuk pencegahan adanya peredaran gelap narkoba di lingkungan rutan sendiri, yang selama ini tidak pernah terjadi atau ditemukan peredaran narkoba," ujarnya saat diwawancarai Tribunjabar.id, Senin (11/7/2022) seusai kegiatan.

Ia menuturkan tes urine tersebut diharapkan mampu mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba mulai di lingkungan pegawai hingga warga binaan.

Sekaligus sebagai upaya preventif untuk menciptakan lingkungan Rutan Kelas II Garut bebas dari narkoba.

"Jika ada yang terbukti, sanksi tegas sudah jelas pasti, dan selanjutnya akan diserahkan kepada BNN, bagaimana tindak lanjutnya," ucap I Wayan.

Kepala BNN Garut AKBP Deni Yusdial mengatakan hasil dari test urine puluhan pegawai Rutan Garut seluruhnya negatif, hal itu menurutnya sebagai bentuk komitmen seluruh jajaran untuk terus berupaya bersih dari narkoba.

Ia menuturkan seluruh anggota rutan juga diharapkan mampu memahami strategi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

"Seluruhnya negatif, tentu saja ini sangat diapresiasi, dan kemudian mengantisipasi kegiatan lain selain di rutan, tentu saja rutan juga harus bersih narkoba," ujarnya.

Potensi kerawanan peredaran narkoba di rutan menurutnya berawal dari adanya demand atau persoalan adiksi dari dalam rutan itu sendiri.

Bisa akibat dari tingginya populasi masyarakat rutan yang mengalami adiksi terhadap narkoba sehingga menimbulkan adanya permintaan barang haram tersebut masuk ke dalam rutan.

"Demand itu harus ada suplai, ini harus diputus suplainya ini, dan persoalan adiksinya ini harus diputus dengan upaya-upaya pencegahan di masyarakat atau pun rehabilitasi," ujarnya.

Baca juga: Anggota Polisi di Garut Dipecat Tidak Hormat, Pakai Narkoba dan 4 Kali Maling Sepeda Motor

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved