Kejahatan Asuransi Jiwa Dilakukan Secara Sistematis

AAJI mencatat jumlah tertanggung atau peserta asuransi jiwa di Indonesia sepanjang kuartal I 2022 mencapai 75,45 juta orang

Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Oktora Veriawan
jabar.tribunnews.com/oktora veriawan
Para pembicara dari AAJI berfoto seusai memaparkan materi dalam kegiatan media gathering di Bandung, Kamis (30/6/2022). 

BANDUNG, JABAR.TRIBUNNEWS.COM - Kecurangan dalam asuransi umumnya dilakukan dengan cara menyembunyikan fakta material seperti merekayasa klaim asuransi hingga menipu.

Hal ini biasanya dilakukan oleh oknum tertanggung maupun penanggung, atau pihak-pihak yang berkepentingan terhadap asuransi, dengan tujuan mendapatkan keuntungan lebih di luar haknya sebagai salah satu pihak.

Ketua Bidang Regulasi, Kepatuhan, dan Litigasi AAJI, Rudi Kamdani, menjelaskan setidaknya ada beberapa kejahatan asuransi jiwa yang sering terjadi di Indonesia.
Pertama, pemalsuan dokumen klaim asuransi jiwa.

"Salah satunya memalsukan surat keterangan kematian. Data kematiannya fiktif. Pelaku seolah-olah telah dinyatakan meninggal dunia," kata dia saat menjadi salah satu pembicara dalam acara Media Gathering Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) di Hotel Grand Mercure Setiabudi Bandung, Kamis (30/6/2022).

Modus kejahatan kedua yaitu membeli poli asuransi jiwa untuk orang yang sudah meninggal dunia. Ketiga, menggunakan identitas dengan tidak sebenarnya.

Keempat, pemalsuan klaim rawat inap. Seperti menggunakan poli dirawat di rumah sakit A, seminggu kemudian dirawat di rumah sakit B, seminggu kemudian dirawat di rumah sakit C. Kelima, pemalsuan diagnosa penyakit.

Berbagai cara dilakukan untuk merekayasa klaim asuransi, baik itu dengan cara membuat klaim asuransi palsu atau memalsukan dokumen atau nilai klaimnya. Hal tersebut dilakukan tertanggung untuk mendapatkan penggantian yang tidak seharusnya.

Kejahatan asuransi jiwa ini dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif. Di antaranya menyebabkan citra buruk terhadap nama baik perusahaan.

"Muncul stigma negatif di masyarakat, bahwa perusahaan asuransi dituding mempersulit klaim. Perusahaan asuransi jiwa hanya menjalankan prosedur secara benar, tak asal mencairkan polis asuransi jiwa," kata dia.

Dampak lainnya yaitu terhambatnya proses klaim asuransi. Serta pembayaran premi nasabah yang lebih mahal dari semestinya karena gara-gara banyaknya klaim fiktif.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved