Di Kabupaten Bandung Sudah Banyak Hewan yang Terkena PMK, Tapi Belum Ada Kepastian Kedatangan Vaksin

Jumlah hewan ternak yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Bandung meningkat pesat.

Penulis: Lutfi Ahmad Mauludin | Editor: Giri
Tribun Cirebon/ Eki Yulianto
ILUSTRASI - Jumlah hewan ternak yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Bandung meningkat pesat. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Lutfi Ahmad Mauludin

TRIBUBJABAR.ID, BANDUNG - Jumlah hewan ternak yang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kabupaten Bandung meningkat pesat.

Namun terkait vaksin PMK belum ada kepastian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran, mengatakan hewan yang berpotensi terkena PMK berjumlah sekitar 310 ribu ekor, terdiri atas sapi perah, sapi potong, kerbau, domba, dan kambing.

"Vaksinnya masih konsultasi ke pemerintah pusat, ada dua opsi, bikin sendiri atau impor dari Jerman. Kita belum tahu dapat vaksin itu berapa dan kapan, kita masih terus minta ke pusat melalui provinsi," ujar Tisna saat dihubungi, Kamis (2/6/2022).

Hingga kini di Kabupaten Bandung sudah terdapat 1.255 hewan ternak yang terdampak PMK.

Menurut Tisna, yang sekarang dibutuhkan itu antibiotik karena yang sakit itu kalau dibiarkan akan parah bisa mengakibatkan kematian.

Baca juga: Suami Jahat Beraksi di Sinjai, Lakukan Hal Ini Saat Ajakan Rujuk Ditolak sang Istri

"Apalagi di anak-anak sapi, itu sangat riskan. Jadi kami dan Pak Bupati akan menentukan dukungan anggaran, dan jenis keperluannya apa. Saya akan sampaikan yang paling dibutuhkan itu antibiotik," ucap Tisna.

Tisna menjelaskan, antibiotik itu tidak sekali diaplikasikannya, tergantung tingkat sakitnya. Bahkan bisa tiga sampai lima kali dengan jarak satu minggu, disuntik ke otot paha belakang.

"Yang dibutuhkan saat ini adalah anggaran (untuk obat), kalau ada vitamin tingkat kesembuhannya akan naik," kata dia.

Sehingga, kata Tisna, nanti sembari menunggu vaksin, yang wilayah kewenangannya di pemerintahan pusat.

"Belum dapat kabar vaksin datang kapan, tapi kemarin tanya ke kementerian itu ada dua pilihan, bikin sendiri atau impor dari Jerman. Begitu ditanya kapan, pokoknya segera, kalau ada segera distribusikan, katanya," tuturnya. 

Tisna mengatakan, PMK ini hitungannya wabah, menyebarnya mungkin bukan per hari, tapi per detik, mungkin karena sangat cepat.

"Jadi ya, kita harus kompak saja. Saya juga percaya kalau kementerian lagi mati-matian supaya mendatangkan vaksin. Mereka juga tahu lah konsekuensinya, saya tuh kasihan ini masyarakat, petani, cuma yang untungnya kan enggak menyebar ke manusia, aman dari konsumsi," ucapnya. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved