Kenali dan Waspadai Kondisi Demam Berdarah Pada Buah Hati Anda

dr. Deisy Alexandria Taruli, Sp. A mengatakan, dalam beberapa kasus, DBD dapat menjadi kondisi yang lebih serius pada anak dibandingkan dewasa

Penulis: Cipta Permana | Editor: bisnistribunjabar
santosa hospital
Dokter Spesialis Anak Santosa Hospital Kopo Bandung, dr. Deisy Alexandria Taruli, Sp. A 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Tribunners, meningkatnya kasus wabah demam berdarah dengue (DBD) di berbagai wilayah, termasuk di Jawa Barat, menuntut kewaspadaan kita, untuk melakukan antisipasi dan penanganan yang tepat, agar DBD tidak menyerang anggota keluarga kita khususnya si buah hati.

Dokter Spesialis Anak Santosa Hospital Kopo Bandung, dr. Deisy Alexandria Taruli, Sp. A mengatakan, dalam beberapa kasus, DBD dapat menjadi kondisi yang lebih serius pada anak dibandingkan dewasa.

Bila seorang anak terkena demam berdarah, anak tersebut akan mengalami tiga fase perjalanan penyakit yaitu, fase demam, fase kritis, serta fase penyembuhan.
Pada fase demam, anak akan mengalami demam tinggi yang terjadi mendadak dan terus menerus, disertai nyeri kepala, nyeri otot seluruh badan, nafsu makan berkurang, mual dan muntah serta anak menjadi lebih rewel dari biasanya.

Dokter Spesialis Anak Santosa Hospital Kopo Bandung, dr. Deisy Alexandria Taruli, Sp. A
Dokter Spesialis Anak Santosa Hospital Kopo Bandung, dr. Deisy Alexandria Taruli, Sp. A (santosa hospital)

Selain itu, bisa didapatkan gejala perdarahan seperti muncul bintik-bintik di kulit, mimisan, maupun gusi berdarah.

"Fase ini biasanya berlangsung selama 2 – 7 hari. Kemudian selanjutnya anak masuk pada fase kritis. Pada fase ini terjadi penurunan suhu tubuh yang cukup drastis, banyak orangtua beranggapan anak sudah membaik. Namun justru pada fase ini di dalam tubuh akan terjadi kebocoran pada pembuluh darah, selain itu kadar trombosit akan semakin turun pada fase ini," ujarnya saat ditemui di Santosa Hospital Kopo Bandung, Jumat (14/1/2022).

dr. Deisy menuturkan, bila kondisi tersebut tidak tertangani dengan baik, kondisi ini akan berujung pada kondisi yang lebih berat yaitu syok.
Sebaliknya, bila anak mendapatkan penanganan dengan tepat, maka selanjutnya akan masuk pada fase pemulihan yang terjadi 48-72 jam setelahnya. Pada fase ini nafsu makan anak mulai membaik dan anak mulai kembali ceria.

"Pada bayi dan anak gejala demam berdarah tidak berbeda, namun gejala pada bayi bisa lebih berat dikarenakan perbedaan pada sistem kekebalan tubuh. Selain itu bayi rentan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan) yang akan memperberat penyakit demam berdarah," ucapnya.

Menurutnya, kondisi kurangnya asupan cairan, dapat memperberat gejala penyakit demam berdarah pada anak. Bayi dan anak dengan berat badan berlebih (obesitas) memiliki risiko mengalami kondisi demam berdarah yang lebih berat.

Selain itu seringkali anak dengan demam berdarah mengalami infeksi tambahan lainnya seperti, demam tifoid, pneumonia (radang paru), atau infeksi lainnya. Pada keadaan seperti ini kondisi anak bisa menjadi lebih berat.

Lalu bagaimana cara penanganan yang tepat untuk mengatasi kondisi DBD sejak fase pertama muncul, Ia menjelaskan, karena umumnya pada tiga hari pertama demam berdarah, gejala yang muncul akan mirip dengan gejala akibat infeksi virus lainnya yaitu, demam, nyeri seluruh badan, anak menjadi rewel dan kurang nafsu makan.

Pada saat ini penting bagi orangtua untuk tetap menjaga asupan cairan serta nutrisi anak. Berikan anak minum lebih sering dapat berupa susu, teh, jus, air dan cairan lainnya.
Anak yang minum dengan cukup umumnya akan buang air kecil setiap 4-6 jam. Kompres air hangat ataupun obat penurun panas yang dapat digunakan untuk membantu menurunkan suhu tubuh anak. Selain itu anak diharapkan dapat istirahat cukup di rumah.

dr. Deisy menambahkan, orangtua yang mengetahui anaknya terkena DBD, sebaiknya anak langsung dibawa ke dokter untuk diperiksakan lebih lanjut, serta dilakukan pemeriksaan darah untuk memastikan diagnosis penyakit demam berdarah.

"Karena tidak semua anak dengan demam berdarah akan dilakukan perawatan di rumah sakit, semua bergantung pada gejala yang dialami anak dan hasil pemeriksaan darah. Untuk anak yang belum memerlukan perawatan rumah sakit, orangtua diharapkan dapat memantau suhu anak di rumah, menjaga asupan cairan anak maupun tanda-tanda bahaya yang membuat anak harus segera dibawa ke rumah sakit," ujar dr. Deisy.

Terkait kapan waktu yang tepat untuk membawa anak dengan gejala DBD ke rumah sakit. Ia menjelaskan, waktu yang paling tepat adalah saat awal anak mengalami demam tinggi terutama bila demam sudah berlangsung > 48 jam. Anak dapat dibawa untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved