Gejala DBD Tak Lagi Bintik-bintik Merah, RSUD Ciamis Rawat 20 Pasien DBD, Sudah Ada yang Meninggal
Selama tahun 2022 sampai Senin (17/1) RSUD Ciamis telah merawat 20 orang pasien demam berdarah dengue (DBD).
Penulis: Andri M Dani | Editor: Darajat Arianto
“Karena saat dibawa ke rumah sakit, kondisinya sudah cukup parah. Trombositnya jauh di bawah batas ambang, akhirnya kondisi pasien tidak tertolong lagi,” katanya.
Ada baiknya sebelum kondisinya parah, bila ada anggota keluarga mengalami demam dengan gejala mirip DBD sebaiknya dibawa segera ke rumah sakit atau puskesmas.
Terjadi 49 Kasus
Sementara itu pihak Dinkes Ciamis, dua minggu pertama awal tahun 2022 ini di Ciamis telah terjadi 49 kasus DBD dan 2 orang diantaranya meninggal dunia.
Selama dua minggu terakhir sampai Senin (17/1) rata-rata tiap hari 3 orang warga Ciamis terjangkit DBD.
Dari 49 kasus DBD yang terjadi selama dua minggu terakhir, dua orang meninggal dunia. Masing seorang balita dan seorang warga usia dewasa.
Di awal tahun baru ini tidak hanya omicron yang mengancam, justru kejadian yang di depan mata yang makin mengancam ternyata DBD.
“Selama tahun 2022 ini sampai Senin (17/1)i tercatat sebanyak 49 kasus DBD di Ciamis. Dua orang penderita meninggal dunia,” ujar Kabid Penanganan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Ciamis dr H Harun Al Rasyid kepada Tribun Senin 17/1).
Kondisi cuaca ekstreem, yang ditandai hujan ekstreem dan panas terik yang sacara bergantian nyaris terjadi tiap hari telah memicu pesatnya perkembang biakan nyamuk aedes aegypti. Nyamuk penular DBD.
Dari 49 kasus yang terjadi selama dua minggu terakhir menurut dr Harun, terbanyak terjadi di wilayah kerja PUskesmas Ciamis Kota (14 kasus), disusul kemudian Handapherang (8 kasus), Baregbeg ( 4 kasus) dan Imbanagara (3 kasus).
Bila dirinci dari jenis kelamin ke-49 warga Ciamis yang terjangkit DBD tersebut sebanyak 27 orang perempuan dan 22 orang laki-laki.
Dengan rincian kelompok umur, anak bayi (usia di bawah 1 tahun) tidak ada kasus, anak balita usia 1 tahun sampai 4 tahun sebanyak 5 kasus (seorang meninggal dunia), usia anak remaja usia 5 tahun sampai 14 tahun (10 kasus), remaja- dewasa usia 15 tahun – 44 tahun (27 kasus) dan usia dewasa di atas 44 tahun sebanyak 7 kasus (seorang meninggal dunia).
Tingginya kasus penularan DBD selama cuaca ekstrem ini menurut dr Harun, warga diimbau untuk meningkatkan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara menyeluruh dan berkelanjut.
Mengatasi pertumbuhan jentik dengan menguras genangan air di tempat-tempat yang disenangi oleh nyamuk untuk bertelur. Menaburkan larvasida (abate) di tempat penyimpanan air (bak, sumur, ember dan lainnya).
Di daerah-daerah telah dilakukan pengasapan (fogging) seperti yang belangsung Minggu (16/1) di lingkungan Lembur Situ Ciamis. (*)