Gejala DBD Tak Lagi Bintik-bintik Merah, RSUD Ciamis Rawat 20 Pasien DBD, Sudah Ada yang Meninggal
Selama tahun 2022 sampai Senin (17/1) RSUD Ciamis telah merawat 20 orang pasien demam berdarah dengue (DBD).
Penulis: Andri M Dani | Editor: Darajat Arianto
Laporan wartawan Tribunjabar.id, Andri M Dani
TRIBUNJABAR.ID,CIAMIS – Selama tahun 2022 sampai Senin (17/1) RSUD Ciamis telah merawat 20 orang pasien demam berdarah dengue (DBD).
Dari 20 orang pasien DBD yang dirawat selama 2 minggu terakhir di RSUD Ciamis tersebut seorang meninggal dunia.
“Pasien yang meninggal tersebut usianya masih balita,” ujar Direktur RSUD Ciamis dr H Rizali Sufiyan M.M kepada Tribun Selasa (18/1).
Dari 20 pasien DBD yang dirawat di RSUD Ciamis tersebut menurut dr Rizali terbanyak berasal dari wilayah Ciamis Kota.
Meningkatnya kasus DBD selama beberapa bulan terakhir sejak masuknya musim hujan mulai September lalu dipicu oleh perubahan cuaca harian yang ekstreem antara panas dan hujan.
Dan pasien DBD paling banyak dirawat di RSUD Ciamis menurut dr Rozali terjadi pada bulan Desember lalu sebanyak 60 orang. Seorang di antaranya meninggal dunia.
Menurut dr Rizali, hal yang perlu diwaspadai masyarakat saat ini adalah gejala DBD yang kadang tidak terdeteksi oleh keluarga pasien sehingga telat dibawa ke fasilitas kesehatan (faskes) seperti puskesmas atau rumah sakit.
“Dianggap demam panas biasa, nggak tahunya ketika diperiksa trombositnya sudah drop,” katanya.
Selama ini masyarakat memahami gejala klasik DBD, seperti demam panas, mual-mual, sakit hulu hati.
Kemudian muncul bintik-bintik seperti darah di permukaan kulit. Dengan masa inkubasi 7 hari yang kemudian diikuti menurunnya kadar trombosit.
“Gejala yang terjadi sekarang, sebelum tujuh hari telah terjadi masa inkubasi. Trombosit drop tanpa ada tanda-tanda muncul bintik-bintik merah di permukaan kulit,” jelas dr Rizali.
Dengan kondisi tersebut banyak keluarga menyangka pasien hanya mengalami demam panas biasa.
Karena tidak ada gejala munculnya bintik-bintik merah mirip bercak darah di permukaan kulit.
Namun setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata kadar trombositnya sudah drop.
“Karena saat dibawa ke rumah sakit, kondisinya sudah cukup parah. Trombositnya jauh di bawah batas ambang, akhirnya kondisi pasien tidak tertolong lagi,” katanya.
Ada baiknya sebelum kondisinya parah, bila ada anggota keluarga mengalami demam dengan gejala mirip DBD sebaiknya dibawa segera ke rumah sakit atau puskesmas.
Terjadi 49 Kasus
Sementara itu pihak Dinkes Ciamis, dua minggu pertama awal tahun 2022 ini di Ciamis telah terjadi 49 kasus DBD dan 2 orang diantaranya meninggal dunia.
Selama dua minggu terakhir sampai Senin (17/1) rata-rata tiap hari 3 orang warga Ciamis terjangkit DBD.
Dari 49 kasus DBD yang terjadi selama dua minggu terakhir, dua orang meninggal dunia. Masing seorang balita dan seorang warga usia dewasa.
Di awal tahun baru ini tidak hanya omicron yang mengancam, justru kejadian yang di depan mata yang makin mengancam ternyata DBD.
“Selama tahun 2022 ini sampai Senin (17/1)i tercatat sebanyak 49 kasus DBD di Ciamis. Dua orang penderita meninggal dunia,” ujar Kabid Penanganan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Ciamis dr H Harun Al Rasyid kepada Tribun Senin 17/1).
Kondisi cuaca ekstreem, yang ditandai hujan ekstreem dan panas terik yang sacara bergantian nyaris terjadi tiap hari telah memicu pesatnya perkembang biakan nyamuk aedes aegypti. Nyamuk penular DBD.
Dari 49 kasus yang terjadi selama dua minggu terakhir menurut dr Harun, terbanyak terjadi di wilayah kerja PUskesmas Ciamis Kota (14 kasus), disusul kemudian Handapherang (8 kasus), Baregbeg ( 4 kasus) dan Imbanagara (3 kasus).
Bila dirinci dari jenis kelamin ke-49 warga Ciamis yang terjangkit DBD tersebut sebanyak 27 orang perempuan dan 22 orang laki-laki.
Dengan rincian kelompok umur, anak bayi (usia di bawah 1 tahun) tidak ada kasus, anak balita usia 1 tahun sampai 4 tahun sebanyak 5 kasus (seorang meninggal dunia), usia anak remaja usia 5 tahun sampai 14 tahun (10 kasus), remaja- dewasa usia 15 tahun – 44 tahun (27 kasus) dan usia dewasa di atas 44 tahun sebanyak 7 kasus (seorang meninggal dunia).
Tingginya kasus penularan DBD selama cuaca ekstrem ini menurut dr Harun, warga diimbau untuk meningkatkan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara menyeluruh dan berkelanjut.
Mengatasi pertumbuhan jentik dengan menguras genangan air di tempat-tempat yang disenangi oleh nyamuk untuk bertelur. Menaburkan larvasida (abate) di tempat penyimpanan air (bak, sumur, ember dan lainnya).
Di daerah-daerah telah dilakukan pengasapan (fogging) seperti yang belangsung Minggu (16/1) di lingkungan Lembur Situ Ciamis. (*)