Breaking News:

Guru Rudapaksa Santri

Orangtua Korban Rudapaksa Herry Wirawan Sebut Orangtua Harus Perhatikan Ini: Jangan Seperti Saya

YY (44), salah satu orangtua korban, mengatakan, para orangtua harus berhati-hati agar musibah yang menimpanya tidak kembali terjadi di kemudian hari.

Tribun Jabar
YY (44), ayah salah satu korban rudapaksa guru bejat Herry Wirawan, saat diwawancarai di Kantor Lembaga Bantuan Hukum Serikat Petani Pasundan, Jumat (10/12/2021). 

Laporan Kontributor TribunJabar.id, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Kasus rudakpaksa terhadap belasan santri yang dilakukan oleh Herry Wirawan menjadi pelajaran berharga bagi para orangtua yang hendak menyekolahkan anak-anaknya.

Perbuatan bejat pelaku dalam kurung waktu hampir enam tahun baru diketahui publik menjadi perhatian penting bagi banyak pihak.

Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai pasti ketahuan juga, mungkin itulah pepatah yang cocok untuk pelaku. Aksinya menjalankan perbuatan keji tersebut akhirnya terungkap.

YY (44), salah satu orangtua korban, mengatakan, para orangtua harus berhati-hati agar musibah yang menimpanya tidak kembali terjadi di kemudian hari.

"Cukup saya yang menjadi korban, cukup. Imbauannya untuk para orangtua jangan mudah percaya, jangan kena dengan iming-iming tak karuan," ujarnya saat dihubungi Tribunjabar.id, Senin (20/12/2021).

Ia menuturkan, pengawasan terhadap anak harus diperketat, meski pun anak berada di lingkungan yang dianggap aman.

Jika anak sedang melakukan pendidikan yang jauh dari rumah, ia menyarankan agar orangtua secara rutin menjenguk anak.

"Jangan seperti saya, buktinya ini saya menjadi korban, pesan saya harus hati-hati, pengawasan harus diperketat," ucapnya.

Pilunya YY baru mengetahui anaknya menjadi korban saat anaknya tersebut sudah melahirkan dan usia bayi kini 1,5 tahun.

Baca juga: Sidang Rudapaksa Santriwati oleh Herry Wirawan Digelar Besok, Bos Kejati Jabar Turun tangan

Ia mengaku hatinya sangat hancur ketika anaknya tersebut menjadi korban dari perilaku bejat gurunya sendiri.

Sekolah yang dibangun oleh pelaku tersebut memiliki aturan ketat, para siswinya tidak diperkenankan untuk sering pulang kecuali urusan mendesak seperti ada keluarga yang meninggal dunia atau pun acara pernikahan.

Para siswinya baru bisa pulang di masa liburan hari raya, itu pun menurut keluarga korban hanya diizinkan libur beberapa hari saja.

Kasus ini mencuat ke publik saat salah satu keluarga korban melihat ada perubahan di tubuh korban saat liburan lebaran.(*)

Baca juga: Polisi Tidak Tutup Kemungkinan Ada Temuan Baru di Kasus Herry Wirawan dari Laporan Masyarakat

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved