Kisah Sukses Bos Persib Umuh Muchtar (2): Duka Mendalam saat Kehilangan si Bungsu yang Dermawan
Sekali di dalam hidupnya yang berlimpah rupiah, Umuh Muchtar pernah juga mengalami murung yang teramat lama.
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Hermawan Aksan
Lapangan sofbol di Jalan Lodaya sangat dekat dengan tempat Agung bersekolah.
Ketika itu, Agung duduk di kelas 2 dan meminta izin kepada Umuh untuk mentraktir teman-temannya makan di sebuah mal di Jalan Merdeka, Kota Bandung.
"Boleh lah, kata saya memberikan izin," kata Umuh.
Saat waktu makan tiba, Umuh memperhatikan seorang anak di dalam kumpulan teman-teman Agung yang penampilannya begitu kumal.
Sandal sudah tipis dan baju kaus yang compang-camping.
Umuh bertanya kepada Agung siapakah anak itu, tetapi Agung tak bisa utuh menjawab.
Dia hanya mengatakan bahwa anak tersebut sering melihatnya jika sedang bermain sofbol.
Jika waktu sofbol selesai, anak tersebut sering sekali tepergok membersihkan sepatu dan alat-alat sofbol lainnya sehingga Agung dan teman-temannya memercayakan semua alat-alat olahraga itu kepada anak compang-camping tersebut.
"Sudah tiga bulan, Pak, dia sama kami, Agung juga sering memberinya uang," kata Umuh menirukan perkataan Agung.
Umuh terenyuh dengan sikap Agung yang demikian itu.
Sikap membela orang susah yang dimiliki Agung tak berhenti di situ.
Umuh berkisah tentang baju Agung yang semuanya diberikan kepada teman-temannya.
Sebelum bulan puasa ketika Agung meninggal dunia, Agung bermain krambol bersama teman-temannya.
Ketika ibunya datang ke rumah dan melihat baju-baju Agung dipakai oleh teman-temannya, ibunya bertanya-tanya, mengapa Agung melakukan itu.
"Agung menjawab ya sudah, nanti ibu saja yang membagikannya."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/umuh-muchtar-di-ciluluk-tanjungsari-sumedang-senin-13122021_2.jpg)