Guru Rudapaksa Santri
Atalia Kamil 'Bungkam' Netizen yang Menyebutnya Biadab Sembunyikan Kasus Herry Wirawan Hamili Santri
Atalia Kamil menjawab tudingan netizen yang menilai telah menyembunyikan kasus guru Herry Wirawan menghamili dan menodasi belasan santri.
Penulis: Kisdiantoro | Editor: Kisdiantoro
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bunda Forum Anak Jawa Barat Atalia Kamil, yang juga istri Gubernur Jabar Ridwan Kamil, menjawab tudingan netizen yang menilai telah menyembunyikan kasus guru Herry Wirawan menghamili dan menodasi belasan santri.
Atalia Kamil bisa memahami kemarahan netizen terhadap kasus yang menimpa 12 santri di Kota Bandung, belakangan bertambah menjadi 21 santri, dirudapaksa gurunya.
Bahkan, Atalia Kamil menangkap layar cuitan netizen yang mempertanyakan hari nurai dan menganggapnya biadab.
Menjawab tudiangan itu, Atalia Kamil tegas bahwa dia dan tim tidak pernah berniat menutupi kasus rudapaksa guru Herry Wirawan menghamili santri dan menodai belasan santri.
Atalia Kamil mengatakan, mempertimbangkan kondisi psikologis para korban dan orangtuanya.
"Saya tidak menutupi kasus ini dari media maupun publik. Tidak mengekpos bukan berarti menutupi. Tugas saya mamastikan para korban usia anak mendapaykan haknya dan mendapatkan perlindungan," ujarnya.
Berikut klarifikasi Atalia Kamil yang diunggah di akut IG, untuk 'membungkam' netizen yang memojokkannya:
1. Polda Jabar, UPTD PPA Jabar, P2TP2A kota kabupaten, kejaksaan tinggi, LPSK, dll semua telah bekerja dengan profesional sejak ditemukannya kasus ini. Penjangkauan, pemeriksaan, pendampingan, trauma healing dll bagi korban dan proses hukum bagi pelaku SUDAH dilakukan, bahkan saat ini persidangan telah digelar untuk yang ke 6 kalinya. Untuk itu saya menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
2. Saya tidak menutupi kasus ini dari media maupun publik. Tidak mengekspos bukan berarti menutupi. Sebagai Bunda Forum Anak Daerah Jabar, tugas saya memastikan para korban usia anak ini mendapat haknya dan mendapatkan perlindungan terbaik sesuai dengan UU Perlindungan Anak. Fokus pada solusi bukan sensasi.
3. Dinamika yang berkembang saat ini, dengan gencarnya pemberitaan di media massa dan media sosial seperti yang kami khawatirkan, patut disayangkan, karena tiba tiba ada banyak pihak yang berusaha mencari identitas dan mendekati para korban/orang tuanya untuk menggali cerita mereka, mengusik kembali hidup mereka.
4. Kita perlu perhatikan kondisi psikologis para korban dan orangtua mereka. Ada 5 korban yang belum sekolah dan 3 korban dikeluarkan dari sekolah karena diketahui telah memiliki anak.
Kondisi mereka yang awalnya sudah mulai menerima keadaan, kini kembali cemas dan trauma. Bahkan ada yang ingin keluar dari sekolah dan pindah dari kampung halamannya.
5. Perlindungan bagi korban, termasuk dari pemberitaan, penting agar korban lain pada kasus lain, berani melapor.
6. Sampai saat ini saya telah berkoordinasi dengan banyak pihak memastikan langkah cepat dan paling aman agar para korban dibawah umur ini mendapatkan hak perlindungan sesuai dengan UU Perlindungan Anak, memastikan masa depannya, pendidikannya serta pengakuan hukum atas bayi yang dilahirkannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/atalia-kamil-dampingi-santri-korban-guru-bejat.jpg)