Kamis, 7 Mei 2026

Teknologi Memungkinkan Para Milenial Beternak Sapi Tanpa Punya Lahan dan Pakan, Begini Caranya

Goopo tawarkan konsep jadi peternak tanpa harus memiliki kandang, dan terbebani oleh harga pakan ternak yang fluktuatif, namun tetap dapat nikmat

Tayang:
Penulis: Cipta Permana | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar / Cipta Permana
CEO Goopo Inovasi Indonesia, Arya Wicaksana jelaskan peluang investasi melalui platform urban farming digital di salah satu restoran di Jalan Banda, Kota Bandung, Minggu (28/11/2021) / Cipta Permana. 

Laporan wartawan TribunJabar.id, Cipta Permana.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kemajuan perkembangan teknologi informasi dan digitalisasi di era 4.0 mulai diterapkan di berbagai sektor kehidupan. Salah satunya dalam bidang peternakan yang dilakukan oleh Goopo sebagai platform urban farming digital.

Goopo menawarkan konsep menjadi peternak tanpa harus memiliki kandang, dan terbebani oleh harga pakan ternak yang fluktuatif, namun tetap dapat menikmati imbal hasilnya secara mudah dan aman.

CEO Goopo Inovasi Indonesia, Arya Wicaksana mengatakan, fokus pihaknya pada layanan penggemukan hewan ternak yakni sapi, dan produk konsumsi olahan ternak. Melalui Goopo, costumer dapat memonitor perkembangan sapi sebagai asetnya.

Baca juga: Warga Bandung Kini Bisa Nikmati Nissan Kicks, Mobil Listrik Tanpa Charger yang Mudah Dioperasikan 

"Melalui aplikasi Goopo, memudahkan siapa saja untuk beternak sapi walau tidak memiliki lahan atau pakan, maupun pengetahuan dalam ternak sapi," ujarnya saat ditemui dalam acara peluncuran Goopo di Jalan Banda, Kota Bandung, Minggu (28/11/2021).

Arya menuturkan, bahwa pihaknya sejalan dengan program Pemprov Jabar yaitu, Petani Milenial. Terlebih, ketahanan pangan, kini menjadi hal yang terus digaungkan oleh pemerintah. 

Sebab meski kaya akan sumber daya alam, namun, Indonesia masih melakukan impor pangan dari berbagai negara dengan persentase yang terus meningkat setiap tahunnya.

Menurutnya dengan melalui platform digital tersebut, maka sapi yang diternakan bisa dipantau secara online dalam 24 jam dengan teknologi based on IOT (Internet Of Things). 

Lebih jauh, dengan dukungan dari perbankan dan asuransi, maka ekosistem peternakan sistem yang dikembangkan oleh platformnya diklaim lebih aman dan menguntungkan. 

"Ketika ada sapi yang sakit, mati atau kehilangan dicover oleh asuransi, ditambah dukungan perbankan, sehingga costumer dapat merasa aman dengan aset yang dimilikinya," ucapnya. 

Baca juga: Blak-blakan Rizky Billar, Ungkap Arti Lesti Kejora untuk Dirinya, Ucap Kata-kata yang Penuh Makna

Arya menjelaskan konsep yang dilakukan oleh pihaknya yakni penggemukan, dimana imbal hasil bagi yang berinvestasi, berasal dari berapa kilogram penggemukan sapi dalam 100 hari. 

"Misalnya pada awalnya sapi yang dibeli memiliki bobot 300 kilogram, kemudian setelah 100 hari dilakukan penggemukan, bobot sapi meningkatkan menjadi 400 kilogram. Dari penggemukan tersebut, yang menjadi return atau imbal hasil yang menarik bagi konsumen yang beternak melalui platform kami," ujar Arya.

Melalui platform urban farming digital  Goopo, pihaknya menargetkan dalam enam bulan kedepan dapat terserap dana dari masyarakat hingga Rp 10 miliar, dalam investasi di sektor peternakan sapi. Mengingat kebutuhan akan daging sapi di Indonesia yang masih tinggi. 

"Jadi memudahkan siapa saja yang ingin beternak sapi, tanpa perlu memiliki lahan atau bingung bagaimana pakannya. Semua bisa dilakukan pada platform web atau mobile apps. Enam bulan kedepan kita targetkan menyerap dana dari masyarakat sebesar Rp 10 Miliar," ucapnya.

Arya menjelaskan bahwa metode peternakan sapi yang dilakukan yakni koloni, yakni sapi-sapi dikumpulkan dalam satu tempat dan dimonitoring secara langsung. Mulai dari lahan, pakan, tempat dan lain sebagainya. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved