Breaking News:

Hindari Ikan Mati Massal di Waduk Saguling, Dispernakan Bandung Barat Sarankan Ini pada Pembudidaya

Antisipasi lebih banyak ikan yang mati, pembudidaya ikan harus melakukan langkah antisipasi sedini mungkin.

Dok. Warga
Puluhan ton ikan di perairan waduk Saguling dan Cirata, Kabupaten Bandung Barat mati mendadak akibat cuaca ekstrem. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG BARAT - Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan), Kabupaten Bandung Barat (KBB) menyarankan pembudidaya ikan kolam jaring apung (KJA) di Waduk Saguling dan Cirata untuk mewaspadai cuaca ekstrem untuk antisipasi ikan mati massal.

Sebelumnya, sebanyak 8-10 ton ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) perairan Waduk Saguling dan Cirata, tepatnya Blok Ugrem, Blok Tangan-tangan, dan Blok Balong yang masuk ke wilayah administratif Desa Bongas dan Desa Batulayang mati mendadak hanya dalam kurun waktu dua hari terakhir.

Kasi Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Dispernakan, KBB, Iip Kusyaman, mengatakan untuk antisipasi lebih banyak ikan yang mati, pembudidaya ikan harus melakukan langkah antisipasi sedini mungkin.

Baca juga: Fenomena Tahunan Terimbas Cuaca Buruk, Jutaan Ikan di Kolam Jaring Apung Waduk Cirata Mati

"Antisipasinya seperti panen penjarangan untuk ikan yang sudah besar, jangan dulu menebar benih, mengurangi intensitas pemberian pakan ketika kualitas air jelek, dan mengurangi kepadatan tebar ikan," ujarnya di Perkantoran Pemkab Bandung Barat, Jumat (22/10/2021).

Terkait hal ini pihaknya juga sudah menyampaikan surat imbauan dari bulan Agustus ke berbagai kelompok paguyuban KJA di Saguling dan juga Cirata, supaya mengantisipasi terjadinya umbalan air yang bisa menyebabkan ikan mati.

Menurutnya, umbalan air atau yang sering disebut upwelling memang selalu terjadi setiap tahunnya, terutama pada saat kondisi cuaca ekstrem ketika memasuki musim penghujan seperti saat ini.

"Langkah-langkah itu bisa meminimalisir kerugian kematian ikan yang diakibatkan umbalan air, sehingga kerugian pembudidaya ikan KJA tidak besar," kata Iip.

Selain itu pihaknya juga memberdayakan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) untuk melaporkan ke dinas ketika terjadi sesuatu di kolam, seperti ketika ada ikan mati, pelanggaran penangkap ikan yang memakai porkas, pukat, dan lain-lain.

Dengan begitu, kata Iip, pihaknya bisa langsung menindaklanjuti untuk menghindari kerugian pembudidaya ikan yang lebih besar, apalagi pihaknya memiliki kewajiban untuk menjaga produktivitas hasil ikan di KBB tetap tinggi.

Baca juga: Puluhan Ton Ikan yang Mati di Waduk Saguling KBB Akibat Keracunan, Begini Analisisnya

"Seperti di Dermaga Bongas semalem bisa menghasilkan 10 ton, Dermaga Rancapanggung 5 ton, Dermaga Cihampelas 7 ton, belum termasuk Cirata. Jadi kalau banyak ikan mati produksi turun, dan kami tidak mau itu terjadi," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved