Breaking News:

Sering Buang Air Kecil Malam Hari, Jangan Anggap Sepele, Bisa Jadi Gejala Kanker Prostat

Gejala dan tanda-tanda kanker prostat perlu diketahui salah satunya keinginan buang air kecil di malam hari

Editor: Siti Fatimah
WEB
ilustrasi kanker prostat 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menyelenggarakan seminar daring bertajuk “Deteksi Dini dan Berbagai Penanganan Kanker Prostat”, dengan narasumber Dr. Agus Rizal A.H. Hamid, SpU(K), Ph.D., dan Prof. dr. Chaidir A. Mochtar, Sp.U(K), Ph.D yang dimoderatori oleh dr. Dyandra Parikesit, B.Med.Sci., Sp.U. Dalam pemaparannya, Dr. Agus Rizal menyampaikan bahwa satu dari delapan pria didiagnosis kanker prostat selama masa hidupnya berdasarkan sumber Prostate Cancer UK (lembaga penelitian kanker).

Dikutip dari laman resmi UI, kasus baru kanker prostat diproyeksikan bertambah sebanyak 24 kali per tahun di Inggris.

“Kanker prostat merupakan kasus kedua terbanyak di dunia untuk kanker padat (solid cancer). Oleh karena itu, salah satu yang meng-endorse diadakannya bulan kesadaran kanker prostat sedunia adalah Urology Care Foundation. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran terhadap risiko terjadinya kanker prostat dan dampak jika menderita kanker prostat,” ujarnya.

Baca juga: Daun Jambu Biji Potensial Atasi Fobia Kanker Mulut? Berikut Hasil Penelitiannya

Tagline kampanye #kenaliprostatmu yang diinisiasi oleh PT Astellas Pharma Indonesia pada 2021, bertujuan mendukung gerakan edukasi awam, agar semakin paham dan mau memeriksakan kesehatan prostat.

Pada pria, prostat berfungsi memproduksi cairan semen, ukurannya sebesar kastanye (chestnut).

Ada beberapa faktor risiko yang memicu terjadinya kanker prostat, yaitu usia (sebagian besar kanker prostat –mungkin lebih dari 99%– ditemukan pada mereka yang berusia di atas 50 tahun), ras dan etnis (etnis berwarna kulit hitam memiliki risiko lebih tinggi menderita kanker prostat, sedangkan etnis Asia memiliki risiko lebih rendah menderita kanker prostat), riwayat keluarga yang sudah pernah terkena kanker prostat, perubahan gen.

Tak hanya itu, diet seperti diet rendah serat dan tinggi lemak dianggap memicu peningkatan risiko kanker prostat, dan kebiasaan merokok memicu hampir semua kanker karena bahan kimia dalam asap rokok memasuki aliran darah.

Baca juga: Bebas dari Penjara Komedian Qomar Derita Kanker Ganas Stadium 4, Lelang Lukisan Demi Kemoterapi

Selain itu, gejala dan tanda-tanda kanker prostat perlu diketahui juga, antara lain sering buang air kecil, pancarannya makin lemah, darah dalam urin, rasa sakit atau terbakar saat buang air kecil, dan keinganan untuk sering buang air kecil di malam hari.

Dengan adanya simptom dan tanda-tanda tersebut, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai penyakit itu.

Dimulai dari tahap wawancara riwayat penyakit yang dirasakan, meraba lubang pelepasan, pemeriksaan antigen spesifik prostat, tahap skrining, tahap konfirmasi dengan biopsi prostat dan pemeriksaan pencitraan.

Tahap skrining kanker prostat pada pria berusia di atas 50 tahun terutama dengan keluhan gangguan berkemih dan pria berusia di atas 45 tahun dengan riwayat kanker prostat dalam keluarga.

Prof. dr. Chaidir A. Mochtar menyampaikan tentang penanganan kanker prostat, terapi, dan operasi yang harus dilakukan. Penanganan kanker prostat dengan pengawasan aktif melakukan pemeriksaan Prostate-Specific Antigen (PSA) selama 6 bulan, colok lubang pelepasan (12 bulan), dan pemeriksaan radiologi atau pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.

Sementara itu, terdapat juga pilihan penanganan kanker prostat, yaitu untuk stadium awal dengan melakukan pengawasan aktif, stadium pertengahan lanjut dengan melakukan terapi radiasi, operasi, terapi hormonal lini pertama, stadium lanjut dengan terapi hormonal lini kedua, kemoterapi, terapi dalam tahap penelitian, radiofarmaka, dan PARP Inhibitor Imunoterapi.

Prof. dr. Chaidir berpesan kepada masyarakat yang memiliki gejala atau tanda-tanda tersebut untuk segera melakukan pemeriksaan agar bisa mengetahui penyakit dan penanganannya.

“Sebaiknya, bila terdiagnosis dengan kanker prostat, konsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis Urologi atau Konsultas Urologi terdekat untuk menentukan pilihan penanganan kanker prostat yang paling sesuai,” katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved