Breaking News:

Warga Kampung Areng Tak Lagi Cemas Memasak, Biogas Mengalir Sendiri dari Pekarangan

Ratusan keluarga di Kampung Areng, Desa Cibodas, Kabupaten Bandung Barat tidak lagi kebingungan saat harga elpiji naik ataupun langka di pasaran.

Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: taufik ismail
Tribun Jabar/Nazmi Abdurrahman
Tateng (50), Ketua RT 02, RW 07 Kampung Areng, Desa Cibodas, Kabupaten Bandung Barat, salah satu koordinator penerapan biogas di kampung Areng menunjukkan kotoran sapi yang akan diolah menjadi biogas, Senin (30/8/2021). 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurahman

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Senin pagi 30 Agustus 2021, Aep Saepulloh (38) sudah sibuk memberi makan sembilan sapi perah di kandang berukuran 84 meter persegi di belakang rumahnya, di Kampung Areng, Desa Cibodas, Kabupaten Bandung Barat.  

Di samping kandang, anak laki-lakinya menyiapkan ampas tahu sebagai tambahan pakan sapi untuk melengkapi protein dari rumput. 

Sekitar enam meter dari kandang, sang istri Entin (35), tengah memasak di dapur. Meski begitu, dari dapur sama sekali tidak tercium bau kotoran sapi. Memang, Aep tidak pernah memberi kesempatan kotoran sapi menumpuk, karena begitu selesai memberi makan kesembilan sapinya, kotorannya langsung dibersihkan. Tidak ada pemadangan kotoran sapi yang menumpuk di pekarangan rumahnya. 

Setelah dikumpulkan, Aep langsung memasukkan kotoran sapi ke ember bekas cat ukuran 25 kilogram, kemudian dimasukkan ke bak pengaduk. 

Di situ, kotoran sapi dicampur air dan diaduk sampai menjadi bubur. Lalu, bubur kotoran itu dialirkan ke dalam digester atau reaktor biogas berkapasitas 4 meter kubik yang terletak di belakang kandang. 

Digester itu berupa bak penampung hampa udara, fungsi utamanya menampung gas metana (CH4) yang dihasilkan dari kotoran sapi yang sudah diendapkan. 

Kotoran sapi dalam digester itu mampu menghasilkan 0,83 meter kubik gas metana yang kemudian dialirkan melalui pipa ke kompor di dapur. Dengan gas metana sebanyak itu, istri Aep bisa memasak selama 4 jam nonstop dengan api yang selalu menyala biru. 

“Ini saya pakai untuk satu rumah saja. Kalau untuk sehari-hari cukup. Sudah tidak perlu beli gas lagi. Biogas itukan kalau sudah habis, ditunggu satu dua jam biasanya ada lagi," ujar Aep. 

Keluarga Aep sudah menikmati biogas dari kotoran sapi sejak 2012. Reaktor biogas tersebut diperoleh dari bantuan program Biogas Rumah (BIRU), program yang diinisiasi oleh HIVOS (organisasi pembangunan non-pemerintah Belanda) bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada 2009 yang diimplementasikan oleh Yayasan Rumah Energi pada 2012. 

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved