Breaking News:

Ini Sistem Penghitungan Hari Baik dan Naas Versi Masyarakat Baduy

Menurut kepercayaan masyarakat Baduy setiap orang memiliki hari naas atau sialnya masing-masing

Editor: Siti Fatimah
Istimewa via Kompas.com
Suku Baduy 

Pasaran dalam perhitungan kolénjér memiliki nilai. Pahing bernilai dalapan ’delapan’ dengan nama sebutannya Papan; Pon = opat ‘empat’ (Ponpat); Wagé = tujuh (Wajuh); Kaliwon ‘Kliwon’ = salapan ‘sembilan’ (Wonpan); dan Manis = lima (Nisma).

Warga Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan ratusan kilometer dari tempat tinggalnya menuju Kantor Gubernur Banten, Sabtu (3/5/2014). Dalam acara ritual tahunan bernama Seba Baduy tersebut warga Baduy mengantarkan hasil bumi kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten untuk melakukan komunikasi dengan pemerintah.
Warga Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan ratusan kilometer dari tempat tinggalnya menuju Kantor Gubernur Banten, Sabtu (3/5/2014). Dalam acara ritual tahunan bernama Seba Baduy tersebut warga Baduy mengantarkan hasil bumi kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten untuk melakukan komunikasi dengan pemerintah. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

Makna Kolénjér

Elis menjelaskan, paduan hitungan nilai hari dan pasarannya dapat diketahui bahwa pekerjaan, maksud, atau keinginan baik tidaknya suatu hajat dilaksanakan.

Selain itu, menurut kepercayaan masyarakat Baduy, setiap orang memiliki hari naas atau sialnya masing-masing.

Untuk mengetahui “hari sialnya” dapat dilakukan dengan perhitungan nama orang yang bersangkutan.

“Dengan demikian, setiap orang yang bermaksud melaksanakan pekerjaan penting dan besar, seperti pernikahan, berpergian, mendirikan rumah, dan sebagainya selalu harus dicari hari baiknya agar niatnya itu dapat berjalan dengan baik,” tutur Elis.

Sastra

Sementara sastra adalah alat perhitungan yang terbuat dari sebilah bambu yang digunakan untuk menentukan sikap dan tindakan berdasarkan sifat yang terdapat dalam diri manusia.

Pada bagian punggung sastra, yakni pada hinis ‘sembilu’ diberi garis-garis dengan goresan memanjang, terbagi atas 20 bagian dan setiap bagian itu memiliki garis dengan jumlah yang tidak sama, berkisar antara 1 sampai 9 buah garis.

“Pembagian tersebut mengacu  kepada aksara Cacarakan (Hanacaraka) yang digunakan dalam perhitungan berdasarkan urutan aksara tersebut, yakni aksara /ha/ sampai /nga/,” terang Elis.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved