Minggu, 10 Mei 2026

Ini Sistem Penghitungan Hari Baik dan Naas Versi Masyarakat Baduy

Menurut kepercayaan masyarakat Baduy setiap orang memiliki hari naas atau sialnya masing-masing

Tayang:
Editor: Siti Fatimah
Istimewa via Kompas.com
Suku Baduy 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Masyarakat Baduy sangat memegang teguh adat tradisi, kepercayaan, dan patuh terhadap pimpinannya. Keteguhannya dalam mempertahankan tradisi leluhur dianggap jauh dari modernisme, bahkan kerap dianggap tidak mengenal huruf dan angka.

Dikutip dari laman resmi Unpad, anggapan bahwa masyarakat Baduy terbelakang disanggah oleh Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Dr. Elis Suryani Nani Sumarlina, MS.

Menurutnya, masyarakat Baduy sangat mengenal bilangan dan aksara yang dapat dihapal berikut nilainya masing-masing.

Hal ini terungkap dalam alat berupa kolénjér  dan sastra yang dijadikan acuan penanggalannya.

Warga Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan ratusan kilometer dari tempat tinggalnya menuju Kantor Gubernur Banten, Sabtu (3/5/2014). Dalam acara ritual tahunan bernama
Warga Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan ratusan kilometer dari tempat tinggalnya menuju Kantor Gubernur Banten, Sabtu (3/5/2014). Dalam acara ritual tahunan bernama "Seba Baduy" tersebut warga Baduy mengantarkan hasil bumi kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten untuk melakukan komunikasi dengan pemerintah. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

“Namun, hanya orang tertentu yang menguasainya, di antaranya Puun, Jaro, dan para sesepuh adat,” kata Elis.

Elis menjelaskan, kolénjér merupakan alat perhitungan yang terbuat dari kayu.

Alat tersebut diberi lubang yang tidak tembus, berupa titik dan garis yang membentuk kotak tertentu.

Jumlah titik-titik dan garis-garis dalam satu kotak mempunyai arti dan tafsiran tersendiri.

Demikian pula dengan semua tanda yang digoreskannya tertera ukuran hari yang memiliki nilainya masing-masing, begitu juga dengan pasarannya.

Elis memaparkan, penggunaan penghitungan kolénjér  adalah hari Ahad, bernilai 5, sebutannya (Hadma); Sénén = opat ‘empat’ (Nenpat); Salasa = tilu ‘tiga’ (Salu); Rebo ‘Rabu’ = tujuh (Bojuh); Kemis ‘Kamis’ = dalapan ‘delapan’ (Mispan); Jumaah ‘Jumat’ = genep ‘enam’ (Manep); dan Saptu ‘Sabtu’ = salapan  ‘sembilan’ (Tupan).

Pasaran dalam perhitungan kolénjér memiliki nilai. Pahing bernilai dalapan ’delapan’ dengan nama sebutannya Papan; Pon = opat ‘empat’ (Ponpat); Wagé = tujuh (Wajuh); Kaliwon ‘Kliwon’ = salapan ‘sembilan’ (Wonpan); dan Manis = lima (Nisma).

Warga Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan ratusan kilometer dari tempat tinggalnya menuju Kantor Gubernur Banten, Sabtu (3/5/2014). Dalam acara ritual tahunan bernama Seba Baduy tersebut warga Baduy mengantarkan hasil bumi kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten untuk melakukan komunikasi dengan pemerintah.
Warga Baduy Dalam dan Baduy Luar berjalan ratusan kilometer dari tempat tinggalnya menuju Kantor Gubernur Banten, Sabtu (3/5/2014). Dalam acara ritual tahunan bernama Seba Baduy tersebut warga Baduy mengantarkan hasil bumi kepada Bupati Lebak dan Gubernur Banten untuk melakukan komunikasi dengan pemerintah. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

Makna Kolénjér

Elis menjelaskan, paduan hitungan nilai hari dan pasarannya dapat diketahui bahwa pekerjaan, maksud, atau keinginan baik tidaknya suatu hajat dilaksanakan.

Selain itu, menurut kepercayaan masyarakat Baduy, setiap orang memiliki hari naas atau sialnya masing-masing.

Untuk mengetahui “hari sialnya” dapat dilakukan dengan perhitungan nama orang yang bersangkutan.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved