Meski Angkanya Turun, BOR Rumah Sakit di Ciamis Masih yang Tertinggi di Jawa Barat
angka bed occupancy rate ( BOR ) di Ciamis masih tetap tinggi, lebih tinggi di atas rata-rata Jawa Barat dan rata-rata nasional.
Penulis: Andri M Dani | Editor: Tarsisius Sutomonaio
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani
TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS- Tingkat keterisian bed di ruang isolasi khusus 5 rumah sakit rujukan Covid-19 menurun saat PPKM Level 3.
Namun angka bed occupancy rate ( BOR ) di Ciamis masih tetap tinggi, lebih tinggi di atas rata-rata Jawa Barat dan rata-rata nasional.
Bahkan, BOR Ciamis tertinggi dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat. Padahal kondisi BOR rumah sakit rujukan di Ciamis sudah turun ke angka 68,28%.
“Berdasarkan sajian data, laju perkembangan kasus di Ciamis menurun. Angka kesembuhan meningkat, tetapi kondisi BOR di Ciamis masih tinggi, di atas rata-rata provinsi dan pusat,” ujar Wakil Bupati Ciamis, Yana D Putra pada rakor evaluasi PPKM Level 3 yang berlangsung di Aula Setda Ciamis, Rabu (4/8/2021).
Rakor tersebut diikuti unsur Forkopimda Ciamis, Sekda Ciamis H Tatang, pimpinan SKPD. Serta diikuti secara virtual oleh camat dan forkopimcam.
Dengan perpanjangan masa PPKM Level 3 di Ciamis sejak Selasa (3/8) sampai Senin (9/8), ucap Yana, kesadaran dan kedisiplinan masyarakat mematuhi prokes makin meningkat. Harapannya kasus penularan Covid-19 menurun.
Baca juga: PHRI Ciamis Prihatin Aksi Protes PPKM Gan Bonddilie di Bandung, Semoga Tidak Terulang di Daerah Lain
Yana berharap Dinkes Ciamis segera menambah kapasitas bed ruang isolasi khusus di rumah sakit yang menjadi rujukan Covid-19 di Ciamis, baik itu RSUD maupun rumah sakit swasta.
“BOR tersebut dihitung dari jumlah bed yang ada di rumah sakit yang dirujuk pemerintah. Penambahan pusat isolasi terpadu (isoter) tidak berpengaruh pada kondisi BOR,” tambahnya.
Diharapkan adanya 28 sekolah di 27 kecamatan bisa efektif mengurangi jumlah pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit.
Bila isolasi mandiri di rumah masing-masing, pasien bergejala ringan bisa meningkat jadi bergejala berat karena kurangnya pengawasan dan penanganan. Sehingga
Karena itu, pasien yang bergejala berat harus dirujuk ke rumah sakit dan menambah BOR. Bila keberadaan isoter efektif, pasien dengan gejala ringan tidak sampai menjadi gejala berat tetapi sembuh.
Dan pusat isolasi terpadu di tiap kecamatan tersebut menjadi tanggung jawab tiap SKPD.
Baca juga: Bantuan Sosial Tunai Dipotong 50 Persen, Warga Diminta Tanda Tangan Surat Tanpa Dikasih Penjelasan
Pada rakor tersebut, Yana D Putra, juga menyebutkan bahwa Kabupaten Ciamis sudah memiliki aplikasi Pikocis yang sudah disosialisasikan sampai ke seluruh kecamatan dan desa di Ciamis.
Dengan adanya aplikasi Pikocis tersebut, ucap Yana D Putra, pemerintah desa dan kecamatan bisa dengan cepat meng-update kasus di daerah masing-masing.
