Sabtu, 18 April 2026

Pantas Presiden Jokowi Ke Apotek Cari Obat Terapi Covid-19 Kosong, Ternyata Ini Penyebabnya

Masalahnya banyak masyarakat yang membeli obat-obat tersebut untuk dijadikan stok di rumah Padahal obat-obat itu seharusnya dipakai untuk orang sakit

Editor: Siti Fatimah
Dok PT PYFA
ilustrasi Ketersediaan Azithromycin 500mg, Levofloxacin, atau Vitamin D3-1000, sebagai obat terapi kesembuhan Covid-19 sangat dibutuhkan masyarakat. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Belum lama ini Presiden Jokowi sengaja mendatangi apotek untuk mencari obat terapi Covid-19, namun obat-obatan yang dicari orang nomor satu di Indonesia tersebut ternyata kosong alias tidak ada.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan lonjakan tersebut mencapai sekitar 12 kali lipat, sehingga perlu peningkatan kapasitas produksi obat.

Masalahnya banyak masyarakat yang membeli obat-obat tersebut untuk dijadikan stok di rumah Padahal obat-obat itu seharusnya dipakai sebagai resep untuk orang yang sakit.

Baca juga: Pastikan Ketersediaan Aman, Pemerintah Buru 3 Jenis Obat Terapi Covid-19 Ini

''Jadi obat ini (Azithromycin, Oseltamivir, Favipiravir, Remdesivir, Actemra, dan Gamaras) adalah obat yang harus diberikan dengan resep dokter. Untuk 3 obat seperti Gamaras, Actemra, dan Remdesivir itu harus disuntikkan dan hanya bisa dilakukan di rumah sakit. Jadi tolong biarkan obat-obatan ini digunakan sesuai dengan prosedur,'' kata Menkes dikutip dari laman Kemenkes.

Karena itu, pihaknya minta tolong agar biarkan obat ini benar-benar dibeli oleh orang yang membutuhkan bukan dibeli sebagai stok.

"Kasihan teman-teman kita yang membutuhkan,'' ucap Menkes.

Sejak tanggal 1 Juni 2021 sampai saat ini telah terjadi lonjakan kebutuhan obat terapi COVID-19 yang tinggi dari kebutuhan obat-obatan. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan lonjakan tersebut mencapai sekitar 12 kali lipat, sehingga perlu peningkatan kapasitas produksi obat.

Baca juga: Dukung Pemerintah, PYFA Prioritaskan Produksi Obat-obat Terapi Kesembuhan Covid-19

''Kami menyadari ini (lonjakan kebutuhan obat). Kami sudah melakukan komunikasi dengan teman-teman di Gabungan Pengusaha Farmasi dan sudah mempersiapkan dengan mengimpor bahan baku obat, memperbesar kapasitas produksi, serta mempersiapkan juga distribusinya,'' katanya dalam konferensi pers secara virtual, Senin (26/7).

Butuh waktu antara 4 sampai 6 minggu agar kapasitas produksi obat dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan peningkatan obat-obatan sebanyak 12 kali lipat.

''Mudah-mudahan di awal Agustus nanti beberapa obat-obatan yang sering dicari masyarakat misalnya Azithromycin, Oseltamivir, maupun Favipiravir itu sudah bisa masuk ke pasar secara lebih signifikan,'' ucap Menkes.

Untuk Azithromycin saat ini ada 11,4 juta stok secara nasional, 20 pabrik bakal memproduksi obat tersebut.

Sehingga kapasitas produksi Azithromycin sebenarnya mencukupi namun terkendala hambatan pada distribusi.

Baca juga: Obat Terapi Covid-19 yang Ditimbun di Jakarta Bisa untuk Obati 3 Ribu Pasien Positif

Kendati demikian, Menkes telah berkoordinasi dengan pihak Gabungan Pengusaha Farmasi untuk memastikan agar obat Azithromycin bisa segera tersedia di apotek apotek.

Khusus untuk Favipiravir stok nya hingga saat ini ada sekitar 6 juta di seluruh Indonesia. Ada beberapa produsen dalam negeri yang akan segera meningkatkan kapasitas produksi obat tersebut, termasuk PT. Kimia Farma yang bisa memproduksi 2 juta obat Favipiravir per hari. Tak hanya itu, rencananya PT Dexa Medica dikabarkan akan impor 15 juta Favipiravir di bulan Agustus.

''kita akan impor juga 9,2 juta dari beberapa negara mulai bulan Agustus, dan ada pabrik baru rencananya yang mulai Agustus juga akan produksi 1 juta Favipiravir setiap hari, dan diharapkan nanti di bulan Agustus kita sudah punya kapasitas produksi dalam negeri antara 2 sampai 4 juta tablet per hari yang bisa memenuhi kebutuhan,'' kata Menkes.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved