Cegah RS di Indramayu Tutup, Bupati: Harus Izin Saya, Jangan Sembarangan Tutup
Bupati Indramayu meminta rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya di wilayahnya jangan sekehendak sendiri dan sembarangan menutup diri
Penulis: Handhika Rahman | Editor: Mega Nugraha
"Itu sebabnya telemedicine sekarang akan menjadi program yang digulirkan RK (Ridwan Kamil) untuk penduduk Jabar. Sesak nafas merupakan keluhan subyektif, harus dinilai secara obyektif. Petugas medis paramedis menentukan urgensi oksigen untuk setiap keluhan sesak," katanya.
Baca juga: Pasien Covid-19 Isoman dan Ancaman Happy Hypoxia saat Oksigen Langka dan RS Penuh
Hanya saja, jika merujuk pada tingkat saturasi oksigen normal manusia dewasa yakni di atas 95 persen, bagaimana jika pasien Covid-19 yang isolasi mandiri di rumah tiba-tiba sesak nafas dengan saturasi di bawah 90 persen berdasarkan alat ukur oxymeter, kata dia, belum tentu itu perlu oksigen.
"Masih ada teknik proning untuk menunggu oksigen datang," katanya.
Proning merupakan teknik yang membantu paru-paru mengalirkan oksigen ke seleuruh tubuh. Saat mau memulai teknik proning, posisikan tubuh dalam kondisi berbaring,posisi tengkurap di permukaan datar seperti tempat tidur selama 30 menit hingga 2 jam.
Kemudian ganti posisi dengan berbaring menghadap kanan dengan durasi yang sama. Lalu, ganti posisi duduk dengan posisi 30 hingga 60 derajat. Setelah duduk, lakukan posisi berbaring menghadap kiri dengan durasi yang sama. Lalu, ganti ke posisi semi tengkurap. Lakukan semua posisi tadi dengan masing-masing berdutrasi 30 menit hingga 2 jam.
Dengan penjelasannya itu, dr Fajar Awalia Yulianto menerangkan, tidak semua pasien covid-19 memerlukan oksigen medis. Kecuali ada pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit.
Dengan kelangkaan oksigen saat ini, pasien Covid-19 gejala berat dan kritis yang menjalani perawatan di rumah sakit berhak mendapat prioritas.
Baca juga: Denda Rp 25 Juta, 5 Orang di Indramayu Melanggar Protokol Kesehatan Bukti PPKM Darurat Lebih Ketat
Selain itu, Fajar menuturkan, meski di tengah kelangkaan, bukan berarti masyarakat harus panic buying dalam memburu ketersediaan oksigen. Baik untuk dikonsumsi secara pribadi maupun upaya penimbunan barang dengan tujuan keuntungan ekonomi.
"Tolong jangan panic buying. Lebih baik beli sesuai kebutuhan. Apalagi, sekarang banyak saudara-saudara kita yang sedang dirawat di rumah sakit, yang jauh lebih membutuhkannya dan kita bisa menolong dengan berpikir secara logis," ucapnya.