Feature
CERITA Asep dan Dwi, Hidup Memprihatinkan di Tengah Kebun Warga Tapi Enggan Dibelaskasihani
DI tengah hiruk-pikuk dan keramaian wilayah perkotaan Cimahi, ternyata masih ada warga miskin yang terpaksa harus bertahan hidup di tengah kebun.
Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Giri
Dewi mengaku baru sekali memeriksakan kandungan, selebihnya tidak pernah lagi.
"Saya tidak punya uang buat periksa kandungan," tutur Dewi.
Selain sedang mengandung, Dewi pun memiliki sakit menahun yang tak pernah ia obati dengan serius yaitu sakit gondok.
Sakit gondok yang dialami Dewi terlihat semakin serius terlihat dengan benjolan leher Dewi yang terlihat sangat besar.
"Sakit gondok ini sudah 18 tahun saya idap. Saya sempat mau berobat lagi, tapi karena sedang hamil, terpaksa dihentikan dulu, nunggu lahiran," ujar Dewi.
Kondisi ekonomi Asep memang sangat tertinggal dari orang-orang di sekitarnya.
Namun Asep sendiri menyadari bahwa ia tak bisa hidup dengan mengandalkan belas kasihan orang lain.
Kalaupun ada bantuan, Asep mengaku lebih memilih mendapatkan bantuan modal.
"Kalau ada modal, saya bisa hidup mandiri, tidak menyusahkan orang lain, apalagi bergantung kepada orang lain. Saya punya cita-cita ingin mengumpulkan uang untuk membeli sepetak tanah agar bisa dibangun tempat tinggal sendiri," katanya. (kemal setia permana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/asep-amin-42-dan-istrinya-dewi-41-terpaksa-tinggal-di-gubuk-reyot.jpg)