Feature
CERITA Asep dan Dwi, Hidup Memprihatinkan di Tengah Kebun Warga Tapi Enggan Dibelaskasihani
DI tengah hiruk-pikuk dan keramaian wilayah perkotaan Cimahi, ternyata masih ada warga miskin yang terpaksa harus bertahan hidup di tengah kebun.
Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Giri
DI tengah hiruk-pikuk dan keramaian wilayah perkotaan Cimahi, ternyata masih ada warga miskin yang terpaksa harus bertahan hidup di tengah area perkebunan warga.
Lebih miris, area perkebunan yang ditempati adalah milik orang lain yang merasa iba sehingga meminjamkan sebagian tanahnya dipergunakan untuk ditinggali.
Adalah Asep Amin (42) warga yang terpaksa tinggal di area perkebunan milik warga sekitar itu.
Di kebun itu, Asep bersama empat anggota keluarganya yang terdiri atas istri dan tiga anak, terpaksa tinggal dalam sebuah bangunan yang sangat tidak layak huni.
Bangunan yang dibuat oleh Asep sendiri ini hanya terdiri atas tambal kayu dan plastik seadanya.
Kurang lebih tiga minggu Asep membangun gubuk ini sekitar satu tahun lalu.
"Dulu saya pernah ngontrak, tapi cuma kuat sebulan. Karena itu saya terpaksa mencari tempat tinggal yang sebisa mungkin bisa ditinggali tanpa biaya bulanan yang memberatkan," ujar Asep ketika ditemui di gubuknya yang berada di wilayah Cicekek, Jalan Padat Karya, Kelurahan Cibeber, Kecamatan Cimahi Selatan, Senin (28/6/2021).
Asep mengaku sempat bingung karena tidak mendapatkan tempat yang bisa ditingali.
Akhirnya atas bantuan seorang kenalannya, ia ditunjukkan tempat kosong yang bisa ditinggali namun letaknya di tengah perkebunan di wilayah Cicekek yang berada tidak jauh dari perbatasan Kota Cimahi dengan Kabupaten Bandung Barat.
Karena tidak ada jalan lain, Asep pun tidak menolak ketika disuruh membereskan tempat yang akan ia tinggali dengan cara membabat rumput-rumput liar dan pohon-pohon yang ada di sekitar wilayah itu.
Bahkan Asep pun membuat jalan setapak sendiri untuk keluar-masuk area perkebunan dari arah jalan raya.
"Dulu tempatnya angker, tapi saya terpaksa harus tinggali. Saya membuat rumah sendiri dengan cara mencari kayu-kayu bekas dan plastik bekas dibantu rekan saya. Sekitar tiga minggu saya membangun gubuk ini," tutur Asep.
Luas gubuk yang dibangun Asep kurang-lebih 5 x 6 meter plus kandang domba yang ada di depan rumah.
Ada sepasang domba di kandang itu.
Domba-domba ini adalah pemberian dari seorang dermawan yang merasa kasihan dengan kondisi Asep dan keluarganya.
"Saya memang merasa lebih baik memelihara ternak, agar berkembang biak dan menghasilkan uang di masa depan, ketimbang harus meminta-minta belas kasihan orang," ujar Asep.
Meski gubuk ini terkesan agak luas, namun kondisinya sangat memprihatinkan karena hanya dibangun dari tempelan kayu-kayu bekas.
Dindingnya berupa plastik bekas pula, yang merepotkan ketika datang angin besar atau hujan.
Tak heran jika hujan datang di beberapa bagian atapnya ada yang bocor.
"Kami berusaha menikmati kondisi ala kadarnya ini. Mau bagaimana lagi, saya tidak punya apa-apa, kerja pun serabutan. Apa yang bisa saya kerjakan, ya kerjakan, jika tida ada, saya berusaha nyari belut pada malam hari," kata Asep.
Di rumah itu, Asep tinggal bersama istrinya Dewi (41) dan tiga orang anaknya yaitu Irwan, Wandi dan Rizki.
Irwan dan Wandi saat ini sudah bisa mencari kerja sendiri sebagai kuli bangunan. Sementara Rizki masih duduk di bangku kelas IX bangku SMP.
Kesulitan ekonomi dan berada di bawah garis kemiskinan membuat Asep dan keluarganya terpaksa tinggal di rumah tak layak huni di kebun milik warga setempat.
Selain harus tinggal di gubuk reyot, Asep dan keluarganya pun harus mengandalkan alam sekitar untuk memenuhi beberapa kebutuhan hidup mereka seperti memasak dan mencuci.
"Untuk masak, kami terpaksa menggunakan kayu bakar karena tak mampu membeli kompor dan gasnya," tutur Asep.
Selain memasak dengan kayu, kondisi memprihatinkan lain adalah Asep dan keluarganya pun harus mencuci pakaian dan kebutuhan lain di selokan yang ada di sekitar kebun itu.
Selokan ini adalah lalu lintas air yang mengalir dari lingkungan perumahan warga atau dari wilayah kebun sekitar.
Namun selokan ini tidak selalu dipenuhi air yang tentu saja jauh dari kondisi steril dan bersih.
"Seperti sekarang, selokannya sedang kering, jadi kami tak bisa mencuci baju. Terpaksa harus nunggu hujan saat airnya kembali besar dan mengalir di selokan," tutur Asep.
Tak hanya sangat kekurangan dari segi ekonomi, Asep pun terus memikirkan kondisi istrinya, Dewi yang saat ini tengah mengandung enam bulan.
Dewi mengaku baru sekali memeriksakan kandungan, selebihnya tidak pernah lagi.
"Saya tidak punya uang buat periksa kandungan," tutur Dewi.
Selain sedang mengandung, Dewi pun memiliki sakit menahun yang tak pernah ia obati dengan serius yaitu sakit gondok.
Sakit gondok yang dialami Dewi terlihat semakin serius terlihat dengan benjolan leher Dewi yang terlihat sangat besar.
"Sakit gondok ini sudah 18 tahun saya idap. Saya sempat mau berobat lagi, tapi karena sedang hamil, terpaksa dihentikan dulu, nunggu lahiran," ujar Dewi.
Kondisi ekonomi Asep memang sangat tertinggal dari orang-orang di sekitarnya.
Namun Asep sendiri menyadari bahwa ia tak bisa hidup dengan mengandalkan belas kasihan orang lain.
Kalaupun ada bantuan, Asep mengaku lebih memilih mendapatkan bantuan modal.
"Kalau ada modal, saya bisa hidup mandiri, tidak menyusahkan orang lain, apalagi bergantung kepada orang lain. Saya punya cita-cita ingin mengumpulkan uang untuk membeli sepetak tanah agar bisa dibangun tempat tinggal sendiri," katanya. (kemal setia permana)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/asep-amin-42-dan-istrinya-dewi-41-terpaksa-tinggal-di-gubuk-reyot.jpg)