Feature
CERITA Asep dan Dwi, Hidup Memprihatinkan di Tengah Kebun Warga Tapi Enggan Dibelaskasihani
DI tengah hiruk-pikuk dan keramaian wilayah perkotaan Cimahi, ternyata masih ada warga miskin yang terpaksa harus bertahan hidup di tengah kebun.
Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Giri
"Saya memang merasa lebih baik memelihara ternak, agar berkembang biak dan menghasilkan uang di masa depan, ketimbang harus meminta-minta belas kasihan orang," ujar Asep.
Meski gubuk ini terkesan agak luas, namun kondisinya sangat memprihatinkan karena hanya dibangun dari tempelan kayu-kayu bekas.
Dindingnya berupa plastik bekas pula, yang merepotkan ketika datang angin besar atau hujan.
Tak heran jika hujan datang di beberapa bagian atapnya ada yang bocor.
"Kami berusaha menikmati kondisi ala kadarnya ini. Mau bagaimana lagi, saya tidak punya apa-apa, kerja pun serabutan. Apa yang bisa saya kerjakan, ya kerjakan, jika tida ada, saya berusaha nyari belut pada malam hari," kata Asep.
Di rumah itu, Asep tinggal bersama istrinya Dewi (41) dan tiga orang anaknya yaitu Irwan, Wandi dan Rizki.
Irwan dan Wandi saat ini sudah bisa mencari kerja sendiri sebagai kuli bangunan. Sementara Rizki masih duduk di bangku kelas IX bangku SMP.
Kesulitan ekonomi dan berada di bawah garis kemiskinan membuat Asep dan keluarganya terpaksa tinggal di rumah tak layak huni di kebun milik warga setempat.
Selain harus tinggal di gubuk reyot, Asep dan keluarganya pun harus mengandalkan alam sekitar untuk memenuhi beberapa kebutuhan hidup mereka seperti memasak dan mencuci.
"Untuk masak, kami terpaksa menggunakan kayu bakar karena tak mampu membeli kompor dan gasnya," tutur Asep.
Selain memasak dengan kayu, kondisi memprihatinkan lain adalah Asep dan keluarganya pun harus mencuci pakaian dan kebutuhan lain di selokan yang ada di sekitar kebun itu.
Selokan ini adalah lalu lintas air yang mengalir dari lingkungan perumahan warga atau dari wilayah kebun sekitar.
Namun selokan ini tidak selalu dipenuhi air yang tentu saja jauh dari kondisi steril dan bersih.
"Seperti sekarang, selokannya sedang kering, jadi kami tak bisa mencuci baju. Terpaksa harus nunggu hujan saat airnya kembali besar dan mengalir di selokan," tutur Asep.
Tak hanya sangat kekurangan dari segi ekonomi, Asep pun terus memikirkan kondisi istrinya, Dewi yang saat ini tengah mengandung enam bulan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/asep-amin-42-dan-istrinya-dewi-41-terpaksa-tinggal-di-gubuk-reyot.jpg)