Selasa, 12 Mei 2026

Gempa Bumi

Beredar Isu tentang Gempa dan Tsunami Dahsyat, BMKG Jelaskan Beda Potensi dan Prediksi

Salah satu yang sempat mengemuka adalah soal tsunami yang disebut-sebut bakal melanda Jawa Timur dengan ketinggian mencapai lebih dari 20 meter.

Tayang:
Editor: Hermawan Aksan
Tribunnews.com
Ilustrasi foto: Gelombang tsunami dahsyat 26-29 meter akibat gempa bumi magnitudo 8,9 di Jatim. Hasil pemodelan matematis dari BMKG. 

Istilah prediksi dan potensi juga dijelaskan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Gedung STIE Kerjasama, Jalan Porwanggan No. 549, Purwo Kinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta, roboh akibat gempa di Yogyakarta pada 26 Mei 2006.
Gedung STIE Kerjasama, Jalan Porwanggan No. 549, Purwo Kinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta, roboh akibat gempa di Yogyakarta pada 26 Mei 2006. (KOMPAS/DAVY SUKAMTA)

Pelacak jejak tsunami purba dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto menjelaskan, potensi berarti suatu fenomena yang pasti akan terjadi, tapi tidak diketahui hal itu kapan akan terjadi.

Saat terjadi, fenomena dapat mencapai titik maksimal (potensi) berdasarkan data yang ada.

Oleh karena itu, saat merespons informasi mengenai potensi gempa dan tsunami, penting untuk memahami ancaman dan perilaku manusia seperti apa yang dapat mengubahnya menjadi bencana.

Misalnya, ketika gempa bumi terjadi, banyak korban yang tercatat akibat robohnya suatu bangunan.

"Jadi, kalau ada yang tidak peduli dengan rumahnya tidak kuat, maka itu akan menjadi aspek manusia yang mengubah ancaman (gempa) jadi bencana (gempa)," ujar Eko.

Hal tersebut juga berlaku untuk tsunami.

Jika masyarakat tidak peduli dan tidak mempersiapkan atau berlatih mitigasi tsunami, aspek manusia akan mengubah ancaman tsunami menjadi bencana tsunami.

Terutama, mereka yang tinggal di pesisir.

Daryono mengatakan, penting untuk memahami langkah mitigasi dan kesiapsiagaannya.

"Peristiwa gempa bumi dan tsunami adalah keniscayaan di wilayah Indonesia."

"Yang penting dan harus dibangun adalah mitigasinya, kesiapsiagaannya, kapasitas stakeholder dan masyarakatnya, serta infrastruktur untuk menghadapi gempa dan tsunami yang mungkin terjadi," ujar Daryono. (*)

Sumber: Kompas
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved