Kamis, 21 Mei 2026

Jabar Siaga Satu Covid-19, Ridwan Kamil Peringatkan 3 Daerah, Kasus Tinggi Tingkat Kesembuhan Rendah

Contohnya pada 1 Mei 2021 tercatat ada 30.443 kasus aktif di Jabar, sedangkan pada 30 Mei 2021 tercatat 29.785 kasus aktif di Jabar.

Tayang:
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ravianto
AFP PHOTO/CENTERS FOR DISEASE CONTROL AND PREVENTION/ALISSA ECKERT/HANDOUT
Ilustrasi Covid-19 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memberi peringatan kepada tiga kabupaten yang memiliki angka penambahan kasus Covid-19 yang selalu tinggi dan angka kesembuhan pasien Covid-19 terendah di Jawa Barat.

Tiga daerah tersebut adalah Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Garut.

"Saya mengingatkan, ada tiga kabupaten yang kasusnya selalu tinggi dan kesembuhannya rendah, yaitu Kabupaten Cianjur, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Garut."

"Saya mengingatkan tim di satgas di Cianjur, Bogor, dan Garut untuk memperhatikan kenapa kasusnya tinggi dan kesembuhannya rendah," katanya di Markas Kodam III Siliwangi, Senin (31/5).

Gubernur mempertanyakan penyebab peningkatan kasus Covid-19 yang selalu tinggi di tiga daerah ini, apakah penularannya kurang teranstisipasi atau obat untuk pasien Covid-19 yanh juga kurang maksimal sehingga sembuhnya lama.

"Karena yang lain kasus aktifnya 10 persen. Tapi Cianjur 49 persen, Bogor 47 persen, dan Kabupaten Garut 27 persen. Saya kira ini sangat tinggi sekali. Rabu saya perintahkan Pak Sekda dan jajaran untuk melakukan antisipasi dan koreksi," katanya.

Kemudian, katanya, ada daerah yang memiliki tingkat vaksinasi yang rendah, yakni Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Indramayu.

Tiga daerah ini dinilai kurang maksimal memenuhi angka vaksinasi yang ditargetkan dan mengakibatkan rata-rata vaksinasi di Jabar ikut rendah.

"Kemudian, untuk lansia yang kita juga ditegur, terendahnya ada di Kabupaten Majalengka, Kabupaten Subang, dan Kabupaten Garut. Vaksinasi paling rendah sehingga mengakibatkan akumulasi vaksinasi lansia belum baik," katanya.

Rapor merah bagi daerah-daerah ini, katanya, diikuti oleh masyarakat yang mengalami penurunan kedisiplinan menjalankan protokol kesehatan.

Biasanya kedisiplinan di atas 80 persen, katanya, namun minggu ini di angka 72 persen. 

"Jadi Bed Occupancy Rate-nya naik, kedisiplinan turun. Seiring dengan varian baru yang ada, tidak ada lain prokesnya harus disiplin. Warga jangan menyepelekan Covid-19 yang makin ganas, jangan sampai negara kehilangan kendali," katanya.

Kapolda Jabar dan Pangdam III Siliwangi, katanya, telah menyiapkan penguatan agar meningkatkan ekpsektasi kedisiplinan warga agar kembali di atas 80 persen.

"Kemudian tes PCR ada daerah yang rendah. Yang paling rendah adalah Kabupaten Pangandaran, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Sumedang."

"Itu rata rata-satu minggu pengetesannya 100 pengetesan. Itu tolong, meningkatkan pengetesan seperti Bandung, Bekasi, Depok yang rata-rata 1.000 pengetesan," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan Jawa Barat kembali berstatus Siaga Satu dalam memerangi penyebaran Covid-19.

Hal ini didasarkan pada sejumlah indikator penanganan Covid-19 di Jabar yang mengalami keterpurukan setelah masa libur Lebaran 2021.

"Jawa Barat sedang Siaga Satu. Pertama, karena terjadi kenaikan dalam BOR (bed occupancy rate atau keterisian rumah sakit). Biasanya turun satu persen, minggu ini naik delapan persen, dari 30,6 menjadi 38,2 persen kenaikan. Ukuran BOR ini kalau sampai 10 persen, itu ada lonjakan," kata Gubernur seusai rapat koordinasi penanganan Covid-19 di Markas Kodam III Siliwangi, Senin (31/5).

Gubernur mengatakan kenaikan angka keterisian ruang isolasi di rumah sakit ini adalah imbas dari libur panjang dan masa pelarangan mudik Lebaran yang mengalami kebocoran walau di angka satu persen.

Hal ini, katanya, harus menjadi pembelajaran bahwa apa yang diupayakan pemerintah adalah untuk menghindari kenaikan ini.

Sejumlah rumah sakit di Jawa Barat, katanya, sudah mencapai ambang batas aman, di antaranya RSUD Al Ihsan, RS Immanuel, dan RS Santosa, yang keterisiannya sudah mencapai 70 persen sampai 90 persen.

"Itu sudah saya koreksi, kalau sudah ada 70 persen, tolong segera mengalokasikan kamar yang untuk perawatan umum, jadi untuk penyakit Covid-19," katanya.

Ketua Harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Barat, Daud Achmad, meminta masyarakat untuk tidak pernah kendor menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Bahkan, katanya, kewaspadaan terhadap penyebaran virus ini harus terus ditingkatkan seiring dengan semakin tingginya keterisian ruang isolasi pasien Covid-19 di berbagai rumah sakit di Jawa Barat.

Pada pertengahan Mei 2021, tercatat angka keterisian ruang isolasi pasien Covid-19 di Jabar terus menurun sampai 28 persen.

Namun pada 30 Mei 2021, kata Daud, keterisiannya kembali meningkat sampai angka rata-rata 38 persen.

Sedangkan keterisian ICU menjadi di atas 50 persen kembali.

"Rumah sakit memang sudah bersiap-siap menambah kembali ruang ICU dan ruang perawatan pasien Covid-19. Itu sudah diperingatkan oleh pemerintah pusat sejak dulu, kalau kita harus bersiap dengan adanya potensi kenaikan angka Covid-19," kata Daud melalui ponsel, Minggu (30/5).

Daud mengatakan hal lain yang harus diwaspadai adalah peningkatan angka kematian akibat Covid-19 di Jawa Barat, dari awalnya 1,19 persen menjadi 1,34 persen.

Walaupun masih di bawah angka nasional yang mencapai 2,2 persen, katanya, kenaikan angka ini tidak bisa dianggap remeh.

"Kita bersiaga lagi di rumah sakit, mengubah kamar perawatan biasa menjadi untuk pasien Covid-19. Sudah diarahkan untuk meambah kembali jumlah tempat tidur di rumah sakit. Selain itu, harus dipersiapkan juga tenaga kesehatan dan peralatannya, terutama untuk ICU. Memang di suatu daerah ada ICU yang full 100 persen karena rumah sakitnya cuma punya tiga tempat tidur ICU, dan ini harus kita tambah," kata Daud.

Jika melihat data Covid-19 di Jawa Barat, katanya, memang angka kasus aktif Covid-19 di Jawa Barat cenderung stabil dan bahkan menurun.

Contohnya pada 1 Mei 2021 tercatat ada 30.443 kasus aktif di Jabar, sedangkan pada 30 Mei 2021 tercatat 29.785 kasus aktif di Jabar.

"Memang angka kesembuhan kita ini termasuk sangat tinggi. Tapi yang harus jadi perhatian adalah angka kematian juga meningkat walau sedikit dan masih di bawah angka nasional," katanya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, pada 30 Mei 2021 tercatat total 312.633 kasus Covid-19 di Jabar. Dari angka tersebut, 278.673 orang di antaranya sembuh, dan 4.175 orang meninggal dunia.

Dengan demikian, sebanyak 29.785 kasus aktif atau yang masih dalam perawatan di Jabar.

Mengenai Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), Athian Ali, yang dikabarkan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, karena terkonfirmasi positif Covid-19, Daud mendoakan supaya Athian Ali dan keluarganya yang dirawat segera pulih dan sembuh.

Athian Ali, katanya, terkenal sebagai sosok yang tegas dan sangat disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan bagi dirinya, keluarganya, dan jamaah masjidnya.

Kejadian yang menimpa tokoh masyarakat ternama di Jabar ini, kata Daud, mencerminkan bahwa masyarakat kini harus lebih waspada terhadap Covid-19.

"Sebagai manusia, mungkin ada hal-hal yang tidak kita sadari. Mungkin merasa aman dengan orang-orang yang tiap hari bertemu dengan kita, padahal kita tidak tahu orang-orang di sekeliling kita habis bertemu siapa sebelum bertemu kita. Jangan kendor dengan protokol kesehatan, kita harus lebih waspada," katanya.

Daud mengatakan mengenai varian baru atau mutasi Covid-19 yang ramai dibicarakan baru-baru ini belum ditemukan lagi di Jawa Barat.

Kasus terakhir, katanya, adalah dua orang di Karawang dinyatakan positif Covid-19 dengan virus varian baru B117 pada awal Maret lalu dan sudah dinyatakan sembuh.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved