Kamis, 14 Mei 2026

Harga Kedelai Meroket, Ukuran Tahu Bulat di Ciamis Terpaksa Mengecil Agar Harga Jual Tetap Sama

Agar tidak berat menanggung beban produksi, solusi yang ditempuh oleh pengrajin tahu bulat adalah dengan memperkecil ukuran tahu bulat.

Tayang:
Penulis: Andri M Dani | Editor: Seli Andina Miranti
istimewa
ILUSTRASI - Produksi tahu 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Itulah kini yang dihadapi pengrajin tahu bulat di Ciamis. Tak hanya terdampak pandemi Covid-19, tapi kini diterjang kenaikan harga kacang kedelai yang gila-gilaan.

Setidaknya yang kini dialami Guru Syarif (60) pengrajin tahu bulat di Blok Salawe, Desa/Kecamatan Cimaragas, kabupaten Ciamis.

Selama masa pandemi ini omset penjualan tahu bulat turun cukup signifikan.

“Tetapi sekarang turunnya lebih drastis sejak bulan puasa kemarin. Gara-gara kenaikan harga kedelai yang gila-gilaan,” ujar Guru Syarif kepada Tribun Jumat (28/5/2021).

Baca juga: Harga Kedelai Mahal, Pengrajin Tahu Sumedang Meminta Pemkab Sumedang Segera Turun Tangan

Normalnya harga kacang kedelai, menurut Guru Syarif, adalah sekitar Rp 9.000 per kilogram. Namun pada bulan puasa sudah naik jadi Rp 10.400.

“Setelah lebaran ini, harga kacang kedelai sudah menembus angka Rp 11.000 per kilogram. Kenaikan yang luar biasa, benar-benar pukulan berat bagi pengusaha tahu bulat di Ciamis,” katanya.

Dalam kondisi normal sebelum pandemi Covid-19 katanya setiap hari ia butuh kacang kedelai 750 kg (hampir 1 ton/hari). Dengan jumlah pekerja 12 orang, 750 kg kacang kedelai tersebut diolah jadi bahan tahu bulat setengah jadi yang ditampung d 100 jolang (wadah). Tiap jolang berisi 7,5 kg, bahan setengah jadi dibikin bulat-bulat seperti kelereng,

Tahu bulat mentah buatan pengrajin di Ciamis tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar di kawasan Jabotabek bahkan sampai ke Lampung. Dan tentunya juga dijual di lokal Ciamis dan Tasikmalaya.

“Kalau sudah matang, digoreng dadakan harganya Rp 500 perbiji,” ujar Guru Syarif.

Namun setelah masuk masa pandemi, kebutuhan kacang kedelai terus berkurang karena daya serap pasar juga terus berkurang.

Baca juga: Harga Kedelai Mahal, Pengrajin Tahu di Sumedang Sepakat Naikkan Harga Jual ke Konsumen di Pasar

“Parahnya sejak bulan puasa. Permintaan anjlok, yang jual tahu bulat keliling masak dadakan juga terus berkurang,” katanya.

Sejak bulan puasa, terlebih setelah lebaran ini menurut Guru Syarif, usaha pembuatan tahu bulat yang dilakoninya berada di ujung tanduk. Akibat terjangan harga kacang kedelai yang terus membubung.

“Sekarang produksi tinggal hanya 20 jolang. Produksi tersisa hanya 20 persen. Kebutuhan kacang kedelai juga berkurang drastis hanya 150 kg/hari. Buat apa produksi banyak-banyak harga kacang kedelainya sudah semakin tidak terjangkau sementara daya serap pasar terus berkurang,” keluh Guru Syarif.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved