Breaking News:

Sepatu Bandung Minim Peminat, yang Impor Lebih Banyak Dicari Seiring Maraknya Penjualan Online

Menjelang Lebaran, masyarakat pun banyak yang mencari kebutuhan alas kaki di pusat perbelanjaan seperti Pasar Baru Kota Bandung.

Penulis: Putri Puspita Nilawati
Editor: Giri
Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati
Penjual sepatu di Pasar Baru, Yusup Supratman (31). Pedagang tak lagi bisa mengandalkan penjualan sepatu asli Bandung karena pembeli lebih memilih barang impor. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kebutuhan alas kaki seperti sepatu dan sandal menjadi hal yang digunakan setiap hari.

Menjelang Lebaran, masyarakat pun banyak yang mencari kebutuhan alas kaki di pusat perbelanjaan seperti Pasar Baru Kota Bandung.

Namun, hadirnya pandemi Covid-19 membuat para pedagang harus mengubah strategi penjualannya.

Hal ini dirasakan oleh penjual sepatu di Pasar Baru, Yusup Supratman (31), yang telah berjualan selama 12 tahun.

Ia mengatakan sebelum hadir penjualan online, ia menjual sepatu yang dibuat oleh UMKM home industri di Cibaduyut.

"Saya ambil sepatu di 15 hingga 20 UMKM yang membuat sepatunya secara handmade asli Bandung," ujar Yusup saat ditemui di tokonya, Kamis (6/5/2021).

Namun saat ini keadaan dan gaya hidup masyarakat berubah setelah munculnya media sosial dan internet yang membuat masyarakat mudah mendapatkan informasi.

Sebagai pedagang, dia harus mengikuti tren.

Baca juga: Berkah Ramadan, Penjual Sepatu di Pasar Baru Banyak Pembeli, Laku Ratusan Pieces

"Saya harus mengurangi pesanan di UMKM, bahkan sekarang usaha mereka sudah tidak ada. Alasannya ya banjir sepatu impor. Jadi yang sekarang diganderungi pembeli itu model impor," ucapnya.

Kini, Yusup pun harus mengikuti apa keinginan pasar dan akhirnya ia pun berbelanja barang grosir ke toko lain yang modelnya tidak bisa custom.

"Di sisi lain saya merasa miris. Dulu pembeli datang ke sini untuk beli sepatu yang khas buatan Bandung, tapi sekarang carinya sepatu impor," ujarnya.

Namun mau tidak mau, sebagai pedagang, ia harus mengikuti pasar dan harus meninggalkan perajin usaha rumahan.

Baca juga: Sepatu Boot Berbahan Limbah Diminati Eropa, Diperkenalkan di Gernas BBI dan BWI

Hadirnya pergeseran penjual online, kata Yusup, tak membuat usaha offline mati.

"Saat ini masih banyak pembeli yang datang langsung karena mereka masih ingin mendapatkan pengalaman belanja dan bisa tawar-menawar sesuai kemampuan," ucapnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved