Jembatan Putus
Jembatan Penghubung Majalengka-Sumedang Putus, Warga Kini Kembali Ripuh, Perekonomian Terhambat
Terputusnya jembatan gantung yang menghubungkan dua desa di Kabupaten Majalengka-Sumedang, Kamis (25/3/2021) malam, dikeluhkan warga.
Penulis: Eki Yulianto | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Terputusnya jembatan gantung yang membentang di Sungai Cimanuk dan menghubungkan dua desa di Kabupaten Majalengka-Sumedang, Kamis (25/3/2021) malam, dikeluhkan warga.
Jembatan gantung itu menghubungkan Desa Babakan Anyar, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka, dengan Desa Palabuan, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang.
Selama dua Minggu terakhir setelah diresmikan oleh Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto, jembatan itu dimanfaatkan banyak masyarakat.
Baca juga: Diresmikan Pangdam Siliwangi Dua Minggu Lalu, Jembatan Gantung Penghubung Majalengka-Sumedang Putus
Baca juga: Ini Cara Ahli Menghitung Potensi Gempa dan Tsunami di Indonesia dan Membuat Simulasinya
Salah satunya, menumbuhkan perekonomian masyarakat yang mayoritas sebagai pedagang.
Nurjali (79), salah satu warga Desa Babakan Anyar yang terdampak putusnya jembatan, mengakui, ia merasa paling tidak puas atas apa yang terjadi di jembatan penghubung dua kabupaten tersebut.
Pasalnya, ia selama ini memanfaatkan jembatan tersebut untuk menjual hasil pencariannya sebagai pencari rumput.
"Dibanding menjual ke daerah sendiri, saya lebih enak menjual ke Sumedang karena banyak pelanggan di sana," ujar Nurjali kepada Tribun Jabar, Jumat (26/3/2021).
Nurjali pun kini harus menyiapkan sejumlah biaya lebih besar untuk kembali menjual ke para pelanggan.
Sebab, ia harus kembali menempuh perjalanan selama 1 jam untuk bisa tiba di Desa Palabuan yang jika lewat jembatan tersebut tempuh hanya 5 menit.

"Ya, kembali lagi ke sana (mutar), lebih jauh. Ya, golongan berapa kilo ya, adalah sekitar 20 km mah," ucapnya.
Kepala Desa Babakan Anyar, Budi Wahyu Darmadi, membenarkan bahwa putusnya jembatan membuat perekonomian masyarakat kembali terhambat.
Pasalnya, banyak masyarakat dari dua desa tersebut berlalu lalang untuk melakukan transaksi hasil pertanian mereka.
"Jelas merugikan, khususnya masyarakat. Karena banyak warga dari Desa Palabuan, desa lainnya itu banyak yang menjual pertaniannya ke Pasar Kadipaten. Begitu juga sebaliknya," ujar Budi.
Ia hanya berharap, para anggota TNI selaku pemilik hajat dalam pembuatan jembatan tersebut bisa segera memperbaiki jembatan yang dinamakan "Jembatan Gantung Hum 54" ini.
Dengan begitu, masyarakat tak harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menumbuhkan perekonomian antar dua desa dari dua kabupaten tersebut. (*)