Asal Usul Kampung Balemalang, Kampung Unik di Majalengka, Hanya Punya Enam Bangunan

Ini dia kampung unik di Majalengka. Namanya Balemalang. Kampung ini hanya punya enam bangunan saja.

Penulis: Eki Yulianto | Editor: taufik ismail
Tribun Jabar/Eki Yulianto
Suasana di Kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. Di kampung ini hanya ada enam bangunan saja. 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, MAJALENGKA - Tak hanya keindahan alam yang ada di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, tapi banyak banyak sisi lain yang dapat digali.

Misalnya saja terdapat beragam kampung yang memiliki latar belakang dan sejarah unik.

Salah satunya Kampung atau Dusun Balemalang yang berada di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.

Baca juga: BARU Saja Gempa Bumi 7,2 Mengguncang Jepang, Badan Meteorologi Keluarkan Peringatan Tsunami

Baca juga: Rekomendasi Wisata Akhir Pekan Ini, Asyiknya River Tubing di Sungai Ciputri, Bayarnya Pun Murah

Di sini, suasananya begitu asri.

Jauh dari hiruk pikuk kendaraan membuat kampung ini sangat nyaman dikunjungi.

Konon, sejak dulu rumah di Balemalang tidak pernah bertambah, yakni hanya tujuh rumah.

Bahkan kini telah berkurang menjadi enam bangunan yang terdiri dari lima rumah dan satu bangunan musala.

Kampung tersebut berjarak 4 kilometer dari kantor desa yang mana sebenarnya memiliki akses jalan mulus yang beraspal.

Hanya saja, untuk mencapainya tidak mudah apalagi dengan kendaraan roda dua, karena kondisi jalan yang kecil dan menurun tajam.

Menurut Ketua Grup Majalengka Baheula (Grumala), Naro mengatakan kampung Balemalang merupakan kampung yang dibilang tanggung.

Sebab, kondisi alam yang terbentuk alami, tidak bisa ditambah bangunan rumah lainnya.

"Orang pertama yang tinggal di sana adalah Buyut Rahan dan Babu Janati pada tahun 1920-an," ujar Mang Naro begitu biasa disapa kepada Tribun, Sabtu (20/3/2021).

Namun, ia tidak mengetahui alasan Buyut Rahan tinggal di kampung tersebut.

Bisa jadi, untuk bersembunyi atau memang menghindari pertempuran pada saat penjajahan itu.

"Belum jelas asal muasal kenapa Rahan tinggal di sana. Apakah menghindari pertempuran, membuang diri, atau hanya ingin menghindari keramaian dan ingin menyepi. Karena suasana di lingkungan tersebut sangat sepi dan nyaman untuk beristirahat," kata dia.

Ketua Grumala, Naro saat berbincang dengan warga kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka.
Ketua Grumala, Naro saat berbincang dengan warga kampung Balemalang di Desa Balagedog, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka. (TribuCirebon.com/Eki Yulianto)

Mang Naro menyampaikan, saat ini kampung tersebut ditinggali lima Kepala Keluarga (KK).

Adapun, mereka merupakan generasi ketiga dari Buyut Rahan yang pertama tinggal.

"Jadi menurut warga setempat, kampung ini didirikan oleh orang tuanya. Katanya sebelum penjajahan Jepang itu sudah ada," ucapnya.

Warga setempat kesehariannya berprofesi sebagai petani.

Selain itu, ada juga yang berketerampilan membuat anyaman dari rotan maupun bambu.

"Kehidupan di sini sangat asri, nyaman dan sejuk. Apalagi, penduduknya ramah-ramah membuat suasana kekeluargaan begitu terasa," jelas dia.

Mang Naro menjelaskan, dinamakannya Balemalang sendiri dikarenakan pada tahun 1930-an, di kampung tersebut dibangun sebuah kantor balai desa.

Namun, karena menghalangi jalan, dipindahkan ke tempat lain hingga saat ini.

"Sekitar tahun 1930-an, di kampung ini dibangun kantor desa. Tapi, karena menghalangi jalan atau malang, maka dipindahkan ke Balagedog. Kantor desa yang malang (menghalangi jalan) ini, akhirnya menjadi nama Balemalang," katanya.

Baca juga: Siapa Asep? Polisi yang Hilang 17 Tahun Lalu saat Gempa dan Tsunami Aceh, Ternyata Masih Hidup

Baca juga: Sosok Amasya Manganang, Kakak Aprilia Manganang yang Dinyatakan Laki-laki, akan Ikuti Jejak Adiknya

Sumber: Tribun Cirebon
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved