Breaking News:

Kisah Aprilia Manganang

FAKTA Pevoli Aprilia Manganang, Ternyata Tidak Ada Organ Internal Jenis Kelamin Wanita 

Status asli pevoli wanita Aprilia Santini Manganang akhirnya terkuak. Manganang ternyata terlahir sebagai laki-laki.

Editor: Giri
Tribunnews dan Instagram/manganang92
KSAD Andika dan Aprilia Manganang. Aprilia Manganang yang selama ini dikenal sebagai atlet voli wanita ternyata laki-laki. 

TRIBNUNJABAR.ID, JAKARTA - Status asli pevoli wanita Aprilia Santini Manganang akhirnya terkuak. Manganang ternyata terlahir sebagai laki-laki.

Pengumumam status itu diungkapkan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa.

Didampingi tim dokter RSPAD Gatot Soebroto, Andika menjelaskan kelainan organ reproduksi yang dialami Sersan Manganang yakni hipospadias.

Ia menggambarkan untuk menuju lokasi tersebut saat ini diperlukan delapan jam dari Manado dengan kapal laut. 

Baca juga: Warga Tak Bisa Singkirkan Tanah Longsor yang Tutup Jalan di Bangbayang Sumedang, Perlu Alat Berat

Baca juga: Aprilia Manganang Eks Atlet Voli Putri Dipastikan Laki-laki, KSAD Andika Perkasa Ungkap Kronologinya

Pemain timnas voli putri Indonesia, Aprilia Manganang, berkostum tim Thailand Generali Supreme Chonburi E-Tech.
Pemain timnas voli putri Indonesia, Aprilia Manganang, berkostum tim Thailand Generali Supreme Chonburi E-Tech. (bolasport.com)

Sebetulnya, lanjut Andika, kelainan pada sistem reproduksi laki-laki atau hiposadias cukup sering terjadi, bahkan menempati peringkat kedua dari jumlah kasus yang biasa terjadi untuk kelahiran bayi laki-laki. 

Menurut data saat ini, kata dia, di setiap 250 bayi laki yang lahir ada satu yang mengalami kelainan atau hipospadias atau empat orang setiap 1.000 kelahiran bayi laki. 

Secara hipotetis, kata Andika, di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk 270 juta jiwa maka ada 1.080.000 anak laki-laki yang lahir dengan kelainan pada sistem reproduksinya.

Andika melanjutkan, ayah Manganang yang bernama Akip Manganang bekerja sebagai buruh perkebunan dan ibunya yang bernama Suryati kerjanya saat itu adalah asisten rumah tangga. 

Ayah Manganang, kata Andika, hanya lulus SD, dan ibu Manganan tidak menyelesaikan SD. 

Pada saat melahirkan, kata Andika, ibu Manganang dibantu paramedis di rumahnya.

Baca juga: Kasus Penembakan Laskar FPI, Direktur Pusham UII: Ada Prasyarat yang Sulit Dibawa ke Pengadilan HAM

Baca juga: Kasus Pencabulan Anak di Bawah Umur Terjadi di Karawang, Terbongkar karena Tepergok Pembantu

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved