Mengenal Hutan Cagar Alam Pananjung di Pantai Pangandaran
Pengunjung kawasan konservasi Cagar Alam Pananjungyang ada di Kabupaten Pangandaran menurun akibat pandemi Covid-19
Penulis: Padna | Editor: Siti Fatimah
TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Cagar Alam Pananjung merupakan kawasan konservasi yang ada di Kabupaten Pangandaran.Wilayah hutan yang diapit dua teluk ini memiliki kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistem yeng dilindungi dan dikembangbiakan secara alami.
Secara administratif, Cagar Alam Pananjung berada di Desa Pangandaran, Kecamatan Pangandaran. Dengan luas keseluruhan area lahan Cagar Alam Pananjung mencapai 1000 hektare.
Cagar Alam Pananjung memiliki daya tarik wisata, area seluas 37,7 hektare dijadikan sebagai Taman Wisata Alam (TWA).
Baca juga: Jangan Dulu Panik Saat Ada Gempa Bumi, Sebaiknya Lakukan 9 Hal Penting Ini Saat Terasa Guncangan
Sisanya, Cagar Alam Pananjung dibagi menjadi dua kawasan, yakni area Cagar Alam seluas 419,3 hektare, dan area Cagar Alam Laut seluas 470 hektare.
Sekarang, kawasan TWA sendiri dikelola oleh Perum Perhutani. Sementara kawasan Cagar Alam dibawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
Meski sebagai kawasan perlindungan satwa dan tumbuhan langka, Cagar Alam Pananjung juga dijadikan sebagai kawasan wisata Pangandaran.
Baca juga: Sesar Lembang Bisa Picu Gempa Bumi Magnitudo 6.8 SR, Wilayah Ini Berpotensi Alami Kerusakan Tinggi
Hanya sebagai catatan, para pengunjung yang datang tidak merusak keberadaan kawasan sebagai habitat satwa dan tumbuhan langka di sana.
Selain binantang endemik Hutan Pananjung, diantaranya primata juga ada sejenis, monyet dan lutung.
Pada zaman dulu Pemerintah Hindia Belanda pernah mendatangkan satwa dari luar kawasan, yakni rusa dan banteng Jawa.
Sampai sekarang, koleksi rusa masih lestari dan terus berkembang biak.
Sementara, banteng sendiri sudah tidak ada lagi.
Baca juga: Mohamed Salah Bertahan di Liverpool, Barcelona dan Real Madrid Pun Gigit Jari
Punahnya banteng-banteng koleksi Cagar Alam Pananjung, terutama terjadi pada tahun 1982 hingga 1983, akibat letusan Gunung Galunggung di Tasikmalaya.
Koleksi banteng di Cagar Alam Pananjung didatangkan Pemerintah Hindia Belanda ketika Pananjung dijadikan sebagai hutan buru pada tahun 1930-an.
Ketika mempersiapkan Pananjung sebagai hutan buru, pada tahun 1934, dilepaskan banteng yang jumlahnya mencapai 60 hingga 80 ekor.
Populasinya lumayan bagus, itu terjaga sampai tahun 1982.
Baca juga: Ribuan Warga Mengungsi, Ratusan Rumah Terendam Banjir Akibat Jebolnya Tanggul Sungai Cipanas
