Breaking News:

Longsor di Sumedang

Polisi Bongkar Penyebab Longsor Cimanggung, dari Masalah Drainase hingga Tak Lakukan Kajian Geologi

Struktur tanah menjadi tidak stabil hingga menyebabkan longsor dan menimpa rumah warga di Perumahan Pondok Daud yang berada tepat di bawahnya.

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/ Hilman Kamaludin
Personel Basarnas Bandung saat memantau proses evakuasi korban tertimbun longsor beberapa waktu lalu. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Aparat kepolisian telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mendalami penyebab longsor di Kampung Bojongkondang, RT 3/10, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang.

Dari hasil olah TKP tersebut, polisi telah menemukan beberapa fakta terkait penyebab longsor dari lereng Perumahan Satria Bumintara Gemilang (SBG) hingga menimbun Perumahan Pondok Daud dan Kampung Bojongkondang itu.

Kapolres Sumedang, AKBP Eko Prasetyo Robbyanto, mengatakan, berdasarkan hasil olah TKP, ada beberapa drainase buatan yang belum ditembok yang mengalir dari perumahan SBG ke lokasi longsor hingga mengarah ke satu selokan yang kemudian mengalir ke sungai yang lebih besar.

"Ketika terjadi hujan lebat dan debit air yang besar, drainase buatan yang belum ditembok tersebut mengalami resapan," ujar Eko dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/1/2021).

Atas hal tersebut, kata Eko, struktur tanah menjadi tidak stabil hingga menyebabkan longsor dan menimpa rumah warga di Perumahan Pondok Daud yang berada tepat di bawahnya.

Selain itu, kata Eko, berdasarkan keterangan saksi dan olah TKP, bahwa perumahan SBG tidak memiliki TPT di sepanjang jalur longsoran tersebut dan ditambah penebangan pohon di lahan lereng antara Perumahan SBG dan Perumahan Pondok Daud.

"Penebangan pohon untuk dijadikan jalan, sehingga kekuatan lereng menjadi tidak stabil," ucapnya.

Sementara berdasarkan kondisi geologi dan geografi, kawasan tersebut memang rawan longsor atau masuk kawasan yang bisa mengalami kejadian longsor dengan frekuensi cukup tinggi.

Baca juga: Kode Agnez Mo Jatuh Cinta, Sepatu Sama dengan Ariel NOAH, Berhubungan dengan Kejadian Jalan Bareng?

"Dalam ketentuan pola ruang gerakan tanah dibawah 40 persen diperbolehkan pembangunan hunian terbatas dengan ketentuan tidak mengganggu kestabilan lereng, dan diterapkan sistem drainase yang tepat," kata Eko.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved