Breaking News:

Longsor di Sumedang

Area Longsor Cimanggung Akan Dikosongkan, Dibutuhkan Anggaran Rp 200 Miliar untuk Ganti Rumah Warga

untuk membangun rumah permanen warga terdampak longsor tersebut diperkirakan akan membutuhkan anggaran sebesar Rp 200 miliar.

Penulis: Hilman Kamaludin
Editor: Seli Andina Miranti
istimewa
Longsor Cimanggung, Hari ini Ditemukan 3 Jenazah, Total Meninggal 28 Orang Masih Dicari 12 Orang 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Pemukiman di area longsor tepatnya di kawasan Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang bakal dikosongkan secara permanen setelah kejadian longsor besar menerjang kawasan tersebut.

Rencana itu berdasarkan hasil kajian ahli geologi sekaligus instruksi dari Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Sehingga, warga terdampak akan dibangunkan rumah tinggal permanen sebagai pengganti rumah mereka yang harus dikosongkan.

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, mengatakan, untuk membangun rumah permanen warga terdampak longsor tersebut diperkirakan akan membutuhkan anggaran sebesar Rp 200 miliar.

"Diperlukan anggaran sekitar Rp 200 miliar untuk membangun hunian tetap bagi warga yang direlokasi, dan anggaran untuk jangka pendek sebesar Rp 6 mliar," ujarnya Dony di Posko SAR Cimanggung, Minggu (17/1/2021).

Hanya saja, kata Dony, untuk membangun hunian tetap bagi warga terdampak itu membutuhkan anggaran dan penyiapan lahan yang tidak sebentar, tetapi warga terdampak dipastikan akan direlokasi sementara dengan anggaran Rp 6 miliar.

Namun demikian, untuk menentukan berapa banyak rumah yang dibangun, Pemkab Sumedang harus memutakhirkan data korban longsor. Sampai saat ini, jumlah korban yang terdampak longsor masih terus bergerak.

Baca juga: Bisa Dicontoh, Ciptakan Lapangan Kerja Saat Pandemi Covid-19, Kelompok Tani Ini Buat Home Industri

"Data sementara ada 267 kepala keluarga dengan 1003 jiwa. Jumlah tersebut dimungkinkan akan terus bertambah karena pendataan masih berlangsung," katanya.

Menurutnya, relokasi permanen itu perlu dilakukan karena lahan di sekitar lokasi longsor sudah tidak layak untuk dijadikan pemukiman karena lahannya merupakan kawasan tapal kuda dan tanah gembur.

"Daerah tersebut rawan terjadi pergerakan tanah. Jika terjadi curah hujan di atas normal, akan berdampak pergerakan tanah dan akan terjadi longsor baru, dan lokasi tersebut sudah tidak layak lagi menjadi hunian," ucap Dony.

Setelah lahan longsor itu dikosongkan, nantinya akan ditanami pepohonan dengan akar keras dengan tujuan untuk pemulihan kembali lahan yang sudah rusak.

"Di sana akan kita hijaukan lerengnya dengan tanaman keras. Di lokasi tersebut akan kita buat vegetasinya dan reboisasinya dan kita antisipasi kemungkinan kedepannya," ucapnya.

Baca juga: Kisah Suster Mia, Gugur Usai Pertaruhkan Nyawa Menyelamatkan Bayi saat Gempa Mengguncang Mamuju

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved