Pusat Isolasi Covid BPSDM
Dari Tepi Rooftop Mereka Terlihat, Tapi Tak Terjangkau
AGAK susah menghitung waktu di pusat isolasi pasien Covid-19 ini. Hari apa, tanggal berapa, agak samar-samar. Perlu sedikit usaha.
Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
Laporan Arief Permadi, Jurnalis Tribun Jabar
AGAK susah menghitung waktu di pusat isolasi pasien Covid-19 ini. Hari apa, tanggal berapa, agak samar-samar. Perlu sedikit usaha. Bolak-balik buka catatan dan ponsel.
Jika tak salah hitung, ini hari keenam saya dan istri berada di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Barat, Jalan Kolonel Masturi, Kota Cimahi. Diantar ambulans kami tiba menjelang magrib. Menjalani serangkaian pemeriksaan sebelum kemudian ditempatkan di kamar masing-masing.
Kami berdua ditempatkan di kamar terpisah di lantai 3 di Gedung A, satu dari dua gedung menjulang (twin tower) di BPSDM, yang sejak beberapa bulan ini dijadikan tempat isolasi mereka yang terkena Covid. Meski terpisah, kamar kami bersebelahan. Tak terlalu kesepian.
Berbeda dengan saat pertama datang, beragam gejala yang sempat saya rasakan pada awal-awal terpapar sudah mulai mereda. Sakit-sakit otot, sakit tenggorokan, dan gangguan penciuman sudah mulai berkurang. Namun pusing dan menggigil saat hendak tidur masih terasa. Perlu jaket berlapis-lapis dan baluran kayu putih agar bisa segera tertidur. Dinginnya terasa sampai ke tulang.
Pusing karena terpapar Covid rasanya berbeda dengan pusing biasa. Pusingnya berhari-hari, timbul-tenggelam.
Pusing yang timbul-tenggelam ini menjadi gejala yang paling awal sejauh yang saya ingat. Saking pusingnya, istri saya bahkan sempat mual-mual.
Kemungkinan besar ia terpapar dari saya karena saat hasil swab pertama yang kami jalani pada 23 November keluar, 27 November lalu, kondisi istri saya masih negatif, sementara saya sudah positif.
Kami menjalani swab setelah saya sempat kontak erat dengan kenalan, yang ternyata positif, pada 16 November. Begitu tahu, saya langsung mengisolasi diri di lantai atas rumah, lapor ke Pak RW, Pak RT, dan tentu saja kantor. Itu tanggal 18 November.
Sejak itu, saya sama sekali tak keluar, kecuali tanggal pada 1 Desember untuk mengantar istri menjalani tes swab yang kedua, yang ternyata hasilnya positif. Di tempat tes usap yang kedua ini hasil keluar hanya sehari setelah tes. Besoknya kami dievakuasi ke BPSDM.
Sejujurnya, saya tak tahu kapan, di mana, dan dari siapa saya tertular. Sebelum menjalani swab dan dinyatakan Covid, saya ingat sempat bertemu banyak orang dan kita tak tahu siapa dari mereka yang sebenarnya telah terpapar namun tak menyadari dirinya terpapar. Saya beruntung, kenalan saya yang positif segera memberitahu saya begitu dia tahu bahwa dirinya positif. Tapi, apakah saya terpapar dari dia, belum tentu juga, karena ternyata banyak juga kontak eratnya, bahkan lebih erat dari saya, tidak terpapar.
Kenyataan ini juga membuat saya tersadar bahwa tak ada cara lainnya menghindari korona selain benar-benar disiplin menaati protokol kesehatan. Disiplin mengenakan masker, rajin mencuci tangan, selalu menjaga jarak, dan sedapat mungkin memghindari kerumunan.
Tanpa kedisiplinan, kita hanya tinggal menunggu waktu hingga akhirnya semua terpapar. Sungguh corona itu ada, serangannya nyata, dan bisa sangat mematikan, terutama untuk mereka yang memiliki penyakit bawaan.
Tower
Ada dua tower di BPSDM yang digunakan sebagai tempat isolasi. Pertama, tower A, di mana saya dan istri tinggal beberapa hari ini. Kedua, tower B yang berada tepat di sebelah utara tower A.
Jarak antartower, entahlah. Mungkin sekitar 50 meteran. Dari rooftop, kami bisa melihat teman-teman lain yang juga diisolasi dan saling melambaikan tangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/beda-tower.jpg)