VIDEO-Ade Rahmat, Tukang Ojek Pengkolan TPA yang Lawan Stigma Ojek Pangkalan Beringas

Tak seperti ojek pengkolan pada umumnya yang kebanyakan menentang kehadiran ojek online atau yang sering kita sebut Ojol

Editor: Teguh Kurnia

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Suasana tempat duduk yang terbuat dari kayu, sahutan suara kendaraan yang melintas dan deretan sepeda motor yang rata-rata telah usang termakan usia menghiasi Pangkalan Ojek TPA Jl. Raya Laswi, Wargamekar, Kec. Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Genap sudah 6 tahun Ade Rahmat (37) menjadi tukang ojek pengkolan. Sebelumnya, pria yang akrab dipanggil Ade itu pernah menjadi supir angkutan umum.

Namun pada akhirnya Ia memutuskan untuk menjalani profesi sebagai tukang ojek pengkolan dikarenakan pendapatan yang Ia dapat dari pekerjaan sebelumnya tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-harinya.

Tak seperti ojek pengkolan pada umumnya yang kebanyakan menentang kehadiran ojek online atau yang sering kita sebut Ojol, Ade mengatakan ojek TPA tidak mempermasalahkan akan adanya ojek online tersebut.

Dirinya mengaku ojek TPA bukanlah zona merah yang melarang ojol melintas.

“Meskipun adanya ojek online sangat berpengaruh buat pemasukan kita, tapi ya kita mah silahkan saja masuk, toh kita sama-sama usaha dan mencari rezeki. Juga disini bukan merupakan zona merah. Dan sejauh ini banyak ojol yang lalu-lalang” ujarnya sembari tertawa dengan temannya ketika ditemui di pangkalan ojek.

Selama 6 tahun terakhir, pria yang mempunyai empat anak itu mengaku banyak mengalami suka, duka dan juga tantangan ketika menjadi tukang ojek pengkolan.

Mulai dari hanya mendapatkan dua penumpang dalam satu hari, sampai mengalami kecelakaan bersama penumpangnya yang memaksa dirinya harus mengganti kerugian kepada penumpang.

Ade menuturkan eksistensi ojek pangkalan kini sudah tergerus zaman, terlebih ketika Pandemi Covid-19 mewabah di seantero penjuru dunia.

Pria yang bertempat tinggal di Kampung Margaluyu rt 07 rw 14 itu mengatakan saat pandemi penghasilannya tak lebih dari Rp 60.000 perharinya.

“Kita sama-sama tahu, kalo sekarang hadir ojek online. Hal itu sudah berpengaruh pada pendapatan kita. Terlebih ketika adanya virus corona, pendapatan kita makin anjlok. Dulu sebelum adanya ojol dan corona, pendapatan kita bisa mencapai Rp. 100.000 perhari. Tapi sekarang berkurang 50 persen bahkan lebih, tapi ya mau gimana lagi namanya juga usaha,” ungkapnya dengan nada suara rendah.

Dirinya sempat terpikirkan untuk menjadi ojek online, tetapi tersendat beberapa hal.

Diantaranya seperti harus memiliki SIM, ponsel pintar dan juga kendaraan keluaran terbaru.

Hal tersebut yang menjadikan Ade dan teman-temannya enggan untuk bergabung menjadi ojek online.



Dalam operasionalnya, ojek pengkolan TPA melakukan absensi dan pendataan bagi tukang ojek yang menarik muatan. Hal ini dilakukan agar terjadinya keseimbangan dan pendapatan merata diantara semua tukang ojek.

Ade mengaku dirinya dan teman-temannya tidak menaksir kisaran harga yang ditawarkan sekali narik. Dia  mengatakan ongkos yang dibayar diserahkan kepada para penumpang.

Salah satu penumpang langganan ojek pengkolan TPA, Novita (26) mengatakan dirinya puas dengan pelayanan tukang ojek di sini.

“Senang sihh, sangat membantu apalagi buat aku yang tidak mempunyai kendaraan. Pelayanannya juga ramah dan baik hati, mereka kadang suka membantu orang atau kendaraan lain untuk menyebrang. Terus yang saya kagum mereka tidak mematok harga dalam sekali nariknya, istilahnya bekerja dengan ikhlas” katanya.

Ade dan teman-temannya berharap untuk kedepannya semoga virus corona segera berakhir. Juga masyarakat lain ikut serta mengakui kehadiran ojek pangkalan disamping hadirnya ojek online agar nantinya bisa membantu perekonomian keluarganya dan teman-temannya.(*)

Penulis: Wildan Noviansah/job2
Video Editor: Edwin Tk

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved