Breaking News:

Sorot

Covid-19 dan Keimanan Kita

Hanya Tuhan yang bisa menentukan kita terkena Covid atau tidak. Namun, berusaha untuk menghindari penyakit itu adalah juga bagian dari keimanan kita

Penulis: Arief Permadi | Editor: Arief Permadi
ISTIMEWA
Gambar yang menunjukan virus Corona Virus SARS-Cov-2 yang menginfeksi sel manusia 

Arief Permadi, Jurnalis Tribun Jabar

JUMLAH pasien baru Covid-19 di Tanah Air terus meningkat dari hari ke hari. Meski tak lagi melewati angka 5 ribu seperti  beberapa hari lalu, peningkatan jumlah harian pasien baru masih terbilang tinggi. Hingga Selasa (17/11/2020), pukul 12.00, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat total kasus Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 474.455 orang, atau bertambah 3.807 kasus baru dalam 24 jam.

Selain karena gencarnya testing (pengetesan) dan tracing (pelacakan) terhadap kontak erat pasien dan kelompok-kelompok yang rentan tertular, mulai kendornya disiplin masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan harus kita akui memicu penambahan kasus ini. Orang-orang mulai kembali suka berkerumun. Lupa cuci tangan dan tak mengenakan masker.

Tiadanya kasus Covid-19 yang terjadi di sekitar kita tak lantas berarti bahwa Covid tak ada lagi. Hanya karena kita tak melihat gejalanya di sekeliling kita bukan berarti pandemi sudah berakhir. Masih terus meningkatnya kasus-kasus baru corona hari-hari ini adalah bukti. Virus tersebut masih ada, masih terus "berkembang", dan berpindah-pindah dari carrier yang satu ke carrier yang lain.

Baca juga: Beredar di pasaran, Masker dengan Katup Pernafasan Tak Efektif Cegah Covid-19? Ini Penjelasannya

Kemampuan corona untuk menyebar melalui udara membuatnya bisa menular dengan sangat cepat. Jauh lebih cepat saat orang-orang berkerumun. Satu orang yang terinfeksi bisa menginfeksi puluhan bahkan ratusan orang yang ada di sekitarnya.

Ini pula yang membuat pemerintah akhirnya mengambil langkah tegas melarang segala bentuk kerumunan, yang apalagi melibatkan massa dengan jumlah yang mencapai ribuan orang. Satu saja terinfeksi, dampaknya akan berantai. Mereka yang tertular bukan saja orang yang ikut berkerumun, tapi juga keluarganya di rumah, anak-anaknya, bayi-bayinya, yang seumur hidupnya barang kali belum pernah keluar rumah.

Kita tak tahu, di tubuh yang mana virus corona yang tak terlihat itu menempel. Banyak orang terlihat sangat sehat meski sesungguhnya mereka sudah terinfeksi, dan itu mungkin saja kita, teman-teman kita, keluarga kita.

Dalam perspektif agama, tak ada sesuatu yang bisa terjadi kecuali Tuhan memang menghendakinya. Namun, kausalitas adalah apa yang juga diciptakan Tuhan untuk kita jalani dan hormati.

Baca juga: Ridwan Kamil Dorong Anggota TNI Jadi Relawan Penyuntik Vaksin Covid-19

Itu sebabnya, sekalipun hanya Tuhan yang bisa menentukan kita terkena Covid atau tidak, berusaha sekuat tenaga untuk menghindari penyakit itu adalah juga bagian dari keimanan kita kepada Tuhan.

Ini juga bentuk kerendahhatian kita, dan pengakuan bahwa kita ini lemah, kecuali dengan pertolongan-Nya. Bahkan terhadap makhluk sekecil virus corona. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved