Semangat DCM 2020, Ajak Generasi Milenial Berbisnis dengan Memanfaatkan Dunia Digital
Deni Abidin menuturkan bahwa semangat acara DCM 2020 salah satunya dilatarbelakangi kondisi ekonomi negeri yang terimbas Covid-19.
Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Dedy Herdiana
"Sekarang sejak pandemi, sudah lebih besar daring, persentasinya (market) sudah berubah karena memang kultur berubah, orang tidak ketemu orang," katanya.
Menurut Dendy, saat ini jalan untuk merintis usaha lebih dimudahkan karena dunia digital memberikan ruang efisien dan efektif. Pihaknya pun seiring dengan pandemi, terus berupaya mengadaptasi kelebihan dunia digital.
Sementara peritel busana asli Indonesia, Cotton Ink, juga memanfaatkan penjualan daring sehingga bisnisnya kian besar sejak didirikan pada 2008. Adalah dua teman sebangku sekolah, Carline Darjanto dan Ria Sarwono, yang merintis Cotton Ink sehingga bisa seperti sekarang.
Menurut Ria Sarwon, bisnis daring jauh dapat menjangkau pelanggan. Ini yang membuat bisnis Cotton Ink terus berjalan.
"Seiring itu toko luring dapat dibuka hingga Cotton Ink mempunyai lima toko luring yang tersebar di sejumlah daerah Indonesia." ujarnya.
Di masa pandemi Covid-19, kata Ria, Cotton Ink pun merasakan pembeli yang datang lebih banyak dari penjualan daring. Menurutnya, pelanggan lebih memilih belanja daring karena Covid-19," katanya.
Di acara yang sama, Co-Owner Lawless, Gofar Hilman, mengatakan bahwa dalam berbisnis, dirinya memanfaatkan komunitas untuk membuat brand Lawless makin tersohor.
"Ya jangan hitungan tahun, bulan, atau hari, hitungan jam saja tren orang bisa berubah. Ketika tren berubah drastis, ada dua pilihan, kita ikutin tren atau ciptain pasar, itu yang dilakukan Lawless dari awal. Jadi fanbase ini gunanya ketika tren berganti, si orang-orang ini tetap stay dan beli produk kita," katanya.
Gofar memandang bahwa apa yang hendak dilakukan seorang pengusaha harus didasari kepentingan branding.
Cara ini seperti dilakukannya di dunia media sosial sehingga meraup pamor seperti sekarang. Hal ini pun akhirnya berimbas pada dunia usahanya.
Baginya, di dunia serba digital seperti sekarang, membiasakan diri dengan platform digital sangat diperlukan.
"Banyak hal yang bisa kita lakukan di sosmed, sosmed itu seperti etalase dan bebas majangin apa buat ditonton orang," katanya. (*)
Baca juga: Masih Ada Jutaan Kuota BLT UMKM Rp 2,4 Juta, Ini Cara Daftar dan Syarat-syaratnya
Baca juga: Jarang Tampil, Wabup Purwakarta Haji Aming Jumpai Pelaku UMKM Terdampak Covid-19 Sekitar Pemda
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/webinar-digital-creative-millenials-dcm-2020.jpg)